FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR– Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Gedung Pertemuan Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Ratusan pasang mata tertuju pada panggung utama, tempat berlangsungnya acara “Temu Tani Desa”.
Hadir di tengah-tengah masyarakat, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah sekaligus Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jateng, H. Sumanto, S.H. Menanggalkan kesan protokoler yang kaku, Sumanto tampil sangat merakyat dan berenergi. Mengenakan kaus merah lengan panjang khas PDI Perjuangan yang dipadukan dengan ikat kepala tradisional blangkon (ikat sunda/jawa), ia berdiri langsung di depan spanduk besar bertuliskan namanya, siap menyuntikkan motivasi hidup bagi warga lereng Gunung Lawu tersebut.
Bagi Sumanto, kunjungan ini membawa misi penting: mengubah pola pikir (mindset) petani dan warga desa agar mampu mandiri dengan menjaga harmoni bersama alam sekitar.
Jeli Melihat Peluang di Tanahnya Sendiri
Matesih dikenal sebagai salah satu wilayah pertanian yang subur di Karanganyar. Namun, Sumanto mengingatkan bahwa potensi alam yang melimpah tidak akan menghasilkan lompatan kemajuan tanpa adanya kreativitas dan keberanian dari masyarakatnya sendiri.
Sambil memegang mikrofon dan berjalan mendekat ke arah warga, orasinya mengalir humanis namun sarat akan kritik membangun. Ia mengajak warga Desa Plosorejo untuk lebih jeli melihat peluang usaha di sektor pertanian modern dan UMKM pedesaan.
“Banyak potensi di pedesaan yang bisa digarap, mulai dari pertanian organik, pasca-panen yang kreatif, hingga ekowisata. Asalkan kita tekun dan konsisten, rezeki itu ada di desa, tidak perlu semua anak muda harus merantau ke kota besar,” ujar Sumanto disambut tepuk tangan riuh.
Politisi senior yang dikenal dekat dengan wong cilik ini juga menyelipkan pesan penting tentang ekologi. Menurutnya, alam Karanganyar adalah modal utama yang harus dirawat. Menjaga lingkungan hidup tetap sehat bukan hanya soal menanam pohon, tapi merupakan investasi ekonomi jangka panjang agar tanah tetap subur dan sumber air tetap mengalir untuk generasi mendatang.
Wejangan Filosofis: Mengubah Cara Hidup Hari Ini
Di tengah ruangan gedung pertemuan yang tenang, Sumanto kemudian melontarkan sebuah wejangan mendalam dalam bahasa Jawa. Kalimat ini seketika menghentak kesadaran warga yang hadir tentang arti sebuah perjuangan hidup.
“Yen siro dino iki ora gelem ngowahi coro uripmu, lan isih ajeg koyo taun-taun kepungkur, ojo ngarep-arep suk bakdo uripmu bakal owah. Kabeh gumantung soko usahamu lan tekadmu dino iki…”
(Jika kamu hari ini tidak mau mengubah cara hidupmu, dan masih sama saja seperti tahun-tahun lalu, jangan berharap kelak hidupmu akan berubah. Semua tergantung dari usaha dan tekadmu hari ini…)
Kalimat filosofis ini menekankan hukum sebab-akibat yang nyata dalam hidup. Sumanto menegaskan bahwa kesejahteraan tidak datang cuma-cuma dari langit atau sekadar keajaiban setelah hari raya (Bakdo). Kemajuan hidup adalah buah dari keringat, keberanian mengambil peluang baru, serta tekad baja untuk keluar dari zona nyaman mulai hari ini juga.
Menuju Kemajuan Bersama dari Desa
Melalui momentum Temu Tani Desa ini, Sumanto berharap Plosorejo bisa menjadi pelopor desa mandiri di Karanganyar. Di bawah pengawasannya sebagai wakil rakyat di tingkat provinsi, ia berkomitmen untuk terus mengawal program-program pertanian yang berpihak pada petani kecil.
Pertemuan di dalam gedung itu diakhiri dengan diskusi interaktif yang gayeng. Siang itu, para petani Plosorejo pulang tidak hanya membawa harapan bagi hamparan sawah mereka, tetapi juga membawa bekal semangat baru untuk mulai bergerak, mengolah tanah dengan cerdas, dan mengubah nasib mereka sendiri. ( bre )
