Fokus Jateng-BOYOLALI , – Dugaan pelecehan yang melibatkan remaja putri berusia 19 tahun di Boyolali menjadi sorotan. Perhatikan publik tidak hanya tertuju pada substansi kasus. Akan tetapi latar belakang pelaku yang disebut merupakan salah satu camat di Boyolali.
Kasus tersebut diketahui sudah ditangani Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Boyolali, terkait pengiriman konten tidak senonoh kepada mantan pegawainya.
“Iya. Kemarin BKPSDM sudah melakukan pemanggilan pada yang bersangkutan,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Boyolali, M. Syawalludin, saat ditemui wartawan usai sidang paripurna di gedung DPRD Boyolali, Senin 6 Juli 2026.
Menurut Syawalludin kasus tersebut tidak masuk dalam kategori kekerasan seksual secara fisik. Dari pengakuan terlapor, video tidak senonoh tersebut terkirim secara tidak sengaja akibat kelalaian atau faktor salah kirim .
“Bukan kekerasan ya, artinya aduannya memang ada apa? Salah kirim begitu. Setelah kemudian dipanggil, yang bersangkutan (Pak Camat) bersama pelapor, dari pihak terlapor menyampaikan bahwa itu salah kirim,” katanya.
Dijelaskan, pelapor merupakan mantan karyawan disalah satu tempat usaha milik camat tersebut. BKPSDM pun telah memediasi dan mempertemukan kedua belah pihak untuk menggali keterangan lebih dalam.
“Dari BKPSDM melihat dan mempertemukan antarpihak, karena memang di situ tidak ada komunikasi yang menunjukkan keberlanjutan atau tujuan tertentu, kami melihat memang Pak Camat betul-betul salah kirim dan sudah menyampaikan permohonan maaf,” ujarnya.
Kendati diakui sebagai unsur ketidaksengajaan yang manusiawi, Pemkab Boyolali menegaskan tidak akan menoleransi kecerobohan ASN dalam digital profesinya.
Ia menegaskan, terlapor tetap mendapatkan sanksi berupa teguran langsung dari Bupati Boyolali, agar lebih berhati-hati dalam bermedia sosial. Hingga saat ini, Camat tersebut dipastikan masih menjalankan tugasnya secara normal memimpin wilayah Boyolali.
“Masih dong, masih melayani (masyarakat). Sementara ini sanksinya menjadi surat teguran dari Pak Bupati,” tegasnya.
Menanggapi isu yang beredar bahwa aksi pengiriman gambar atau video tidak senonoh tersebut dilakukan lebih dari sekali, Sekda menegaskan pihaknya bersikap terbuka dan menunggu jika ada bukti atau laporan baru dari korban lain.
“Ya, itu yang kita tunggu. Kita bergerak berdasarkan laporan. Kalau memang ada korban-korban yang lain, berarti kejadiannya lebih dari satu orang. Jika lebih dari satu orang, berarti nyuwun sewu bukan lagi salah kirim, melainkan ada pemahaman lain,” bebernya.
Dia memastikan, Pemkab selaku Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) tidak akan tinggal diam jika ditemukan bukti faktual baru di kemudian hari.
*Korban Ketakutan*
Sementara TA (19) mengaku sangat terkejut dan merasa sangat direndahkan saat menerima kiriman video itu. Karena tidak ada penjelasan ataupun permintaan maaf setelah video terkirim, ia memilih memblokir nomor telepon terlapor.
“Ya tentu kaget, merasa sangat direndahkan,” katanya.
Ia menuturkan Kala itu, ia masih bekerja di sebuah toko roti milik camat. Saat, ia berinisiatif untuk keluar (resign).Tapi, camat itu menahannya dengan alasan agar memberikan traning dulu ke karyawan baru.
Namun tanpa diduga, ia menerima dua kali kiriman video berdurasi sekitar sembilan detik yang menampilkan aktivitas seksual pribadi camat tersebut.
“Tiba-tiba beliau ngirimin video 2 kali, dalam waktu berdekatan sekitar pukul 11.58 WIB, Saya buka videonya itu to, videonya sendiri, video porno,” ujarnya.
Dijelaskan, video camat telanjang dengan memperhatikan alat kelaminnya dengan durasi 9 detik itu dikirim pada 30 Maret lalu.
Kendati demikian, TA tak langsung bereaksi. Ia mengira itu salah kirim.
” Saya nunggu dia konfirmasi, apa karena salah kirim atau gimana. La itu ga chat sama sekali sampai malam. Nah malamnya saya blokir nomornya,” ujar TA.
Karena takut, TA pun kemudian menyampaikan kepada keluarganya. Hingga kemudian melayangkan surat aduan ke Pemkab Boyolali. Setelah pihaknya mengirimkan surat, Pemkab Boyolali kemudian melakukan mediasi.
” Sebelum (mediasi) beliau malah ngancam. Saya suruh minta maaf ke beliau. Katanya saya jelek-jelekin masalah gaji,” ujarnya.
Bahkan kepala desanya juga dichat agar TA segera meminta maaf. Akibat kejadian itu, TA mengaku sempat mengalami ketakutan untuk bepergian sendirian selama sekitar dua pekan setelah kejadian tersebut. ( yull/**)
