FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Halaman belakang Rumah Dinas Bupati Karanganyar pada Kamis malam (2/7) mendadak senyap. Suasana riuh khas perkotaan seolah larut, digantikan oleh aroma dupa yang pekat, bercampur harumnya kembang mawar, melati, dan kenanga yang merayap di udara.
Di bawah temaram lampu yang syahdu, Pemerintah Kabupaten Karanganyar menggelar sebuah tradisi turun-temurun yang sarat makna: Jamasan Pusaka Kyai Pamot dan Kyai Jaran Bigar. Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto, S.E., M.M., bersama jajaran dinas, tokoh masyarakat, serta para budayawan setempat.
Bagi orang awam, ritual mencuci keris mungkin terlihat tak lebih dari sekadar membersihkan besi tua dari karat. Namun bagi masyarakat Jawa, jamasan adalah momen sakral untuk berkaca pada diri sendiri.
“Pusaka ini bukan cuma benda kuno penunggu lemari pajangan. Ini adalah simbol jati diri, semangat, dan mentalitas orang Karanganyar. Yang kita bersihkan malam ini bukan sekadar fisik kerisnya, tapi kita sedang merawat kembali nilai-nilai luhur titipan leluhur,” ujar Bupati Rober Christanto dengan nada takzim.
Membaca “Sifat” Kyai Pamot dan Kyai Jaran Bigar
Keris dalam dunia perkerisan bukan dibuat asal jadi. Setiap lekuk, bentuk (dhapur), dan guratan serat besinya (pamor) menyimpan doa dari sang empu. Dua pusaka andalan Karanganyar yang dijamas malam itu punya cerita filosofis yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Kyai Pamot: Lambang Hati yang Luas dan Pengayom
Nama “Pamot” berasal dari kata mot atau amot, yang artinya memuat, menampung, atau merangkul. Keris ini jadi pengingat bagi para pemimpin dan kita semua untuk punya hati yang lapang. Menjadi manusia harus bisa mendengarkan keluh kesah orang lain, merangkul perbedaan, dan bisa menahan ego demi kebersamaan.
Kyai Jaran Bigar: Semangat yang Ogah Loyo
Kata “Jaran” (Kuda) melambangkan energi besar dan kegesitan, sedangkan “Bigar” berarti lincah atau lepas gembira. Pusaka ini membawa pesan agar warga Karanganyar tidak gampang menyerah dan malas-malasan. Kita diajak untuk terus bergerak dinamis, tangkas menghadapi perkembangan zaman, tapi tetap punya rem moral agar tidak kebablasan.
Bukan Mistis, Ada Logika di Balik Air Jeruk Nipis
Menariknya, prosesi pembersihan keris yang memakai air kembang dan perasan jeruk nipis ini sebenarnya punya sisi logis. Secara ilmiah, kandungan asam pada jeruk nipis memang ampuh merontokkan karat tanpa merusak struktur besi kuno pada bilah keris.
Sementara dari sisi spiritual, air bunga ini adalah simbol penyucian batin atau *rakat*. Menggosok karat di keris adalah simbolis bahwa manusia juga harus rajin membersihkan “karat” di dalam hatinya sendiri—seperti sifat sombong, iri hati, dan dendam—agar kembali bersih dan tenang.
Pesan untuk Anak Muda: Keren Itu yang Enggak Lupa Akar Budaya
Di akhir acara, Bupati Rober Christanto menyelipkan pesan penting buat generasi muda. Beliau berharap anak-anak zaman sekarang tidak melihat tradisi seperti ini sebagai hal klenik atau kuno.
Menjadi modern dan maju itu wajib, tapi jangan sampai mencabut akar budaya sendiri. Kemajuan daerah justru harus berjalan beriringan dengan warisan sejarah sebagai pondasi karakter kita.
Dengan semangat “Sesarengan Mbangun Karanganyar” (Bersama Membangun Karanganyar), ritual jamasan ini menjadi alarm pengingat yang ramah: seberapa jauh pun kita melangkah ke masa depan, kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal. ( bre)
