Harmoni Alam di Karangpandan: Saat Burung Hantu Jadi ‘Penyelamat’ Padi dan Petani Karanganyar

Foto : kepala dinas Pertanian , perikanan dan pangan Dr Feriana dan tokoh masyarakat karangpandan Sri Hardjono

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Pagi itu, hamparan hijau lahan pertanian milik Kelompok Tani Sri Sadono Mulyo di Dusun Tangkilan, Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan tampak berbeda. Di sudut-sudut sawah, kini berdiri kokoh rumah-rumah kecil di atas tiang tinggi. Rumah itu bukan buat burung hias, melainkan “istana” bagi burung hantu (Tyto alba)—sang predator alami yang kini didapuk menjadi benteng pertahanan petani melawan hama tikus.
Langkah kreatif yang ramah lingkungan ini menjadi salah satu sorotan utama dalam acara Rembug Tani yang dipimpin langsung oleh Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto, S.E., M.M., pada Kamis (2/7).
Bukan sekadar seremonial, kehadiran orang nomor satu di Karanganyar yang didampingi oleh Wakil Bupati, perwakilan Bank Indonesia, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan, serta jajaran OPD ini membawa angin segar bagi penguatan kedaulatan pangan di Bumi Intanpari.

Petani: Garda Terdepan dan Pahlawan Pangan

Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka, Bupati Rober Christanto tidak canggung untuk duduk bersama warga, mendengarkan langsung keluh kesah yang selama ini mengendap di pematang sawah. Bagi Bupati, petani bukanlah objek penonton, melainkan aktor utama pembangunan.
“Petani adalah pahlawan pangan. Keberhasilan sektor pertanian merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Pemerintah Kabupaten Karanganyar akan terus mendampingi dan memperkuat upaya petani agar hasil produksi semakin meningkat,” ujar Rober dengan penuh apresiasi.

Komitmen ini dibuktikan dengan penyerahan berbagai stimulan bantuan kepada kelompok tani setempat untuk mendongkrak sarana produksi mereka.

Kembali ke Alam, Perang Total Melawan Tikus

Masalah Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)—khususnya serangan tikus—memang kerap menjadi momok yang bikin petani elus dada saat musim panen tiba. Namun, alih-alih menggunakan racun atau pestisida kimia yang merusak lingkungan, Pemkab Karanganyar memilih jalan yang lebih bijak: mengajak alam bekerja sama.
Pendirian rumah burung hantu (rubuha) di Desa Bangsri ini menjadi simbol peralihan menuju sistem pertanian yang berkelanjutan (*sustainable farming*). Dengan membiarkan burung hantu berburu secara alami di malam hari, populasi tikus dapat ditekan drastis tanpa merusak ekosistem tanah dan air sekitar.

Sinergi dan Komitmen Kemandirian dari Akar Rumput

Gayung bersambut, inovasi dan perhatian dari pemerintah ini mendapat respons positif dari masyarakat. Sri Harjono, salah satu tokoh masyarakat setempat, menegaskan bahwa warga dan petani Karangpandan siap mengawal program ini demi masa depan pertanian yang lebih mandiri.
“Kami akan selalu menjalin komunikasi dan bertukar pengetahuan untuk kemandirian dan ketahanan para petani,” tegas Sri Harjono mantap.

Melalui rembug tani dan kolaborasi lintas sektor ini, Kabupaten Karanganyar sedang mengirimkan pesan penting: bahwa ketahanan pangan yang kuat tidak dibangun dengan cara instan, melainkan dari komunikasi yang erat, kepedulian pemerintah, dan kearifan menjaga alam. (bre /rls)