FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Suara ketukan ritmis kendang dan lengkingan gamelan masih menyisakan gaung yang magis di lereng Gunung Lawu. Pada Minggu (28/6) malam, Pelataran Padepokan Ismoyo Tunggal yang terletak di Karanganyar berubah menjadi episentrum getaran spiritual dan estetika Jawa. Sebuah pergelaran budaya bertajuk Merti Gunung “Mapag Padhang Bulan” 2026 sukses digelar secara khidmat sekaligus meriah.
Bukan sekadar tontonan musiman di bawah benderangnya rembulan, acara ini menjadi sebuah pernyataan sikap yang menegaskan semboyan luhur: Nguri-uri budaya, nglestarekake warisan leluhur” (merawat budaya, melestarikan warisan leluhur). Perhelatan yang diinisiasi oleh Chandra Saputra selaku penyelenggara sekaligus pembina Paguyuban, serta dikurasi oleh Ramadhan Isnain ini, berhasil memadukan ritual sakral dengan kemegahan kesenian kerakyatan.
Kirab Gunungan dan Gemuruh Jathilan Turonggo Jati
Rangkaian acara dimulai tepat pukul 19.00 WIB melalui prosesi Kirab Budaya. Iring-iringan gunungan hasil bumi yang megah diarak mengitari kawasan padepokan. Prosesi ini dipimpin langsung oleh para sesepuh adat dan diikuti barisan pemuda-pemudi berbusana tradisional Jawa lengkap. Kehadiran para penari latar dengan kostum keemasan berpadu kain jarik corak klasik kian menambah atmosfer magis di bawah naungan langit malam yang cerah. Gunungan tersebut menjadi simbol visual dari rasa syukur yang mendalam atas berkah kesuburan bumi.
Memasuki pukul 20.00 WIB, suasana yang semula khidmat berubah dinamis dan penuh energi. Kelompok seni Jathilan Turonggo Jati mengambil alih panggung utama. Gerakan tari yang kompak, gagah, dan sesekali menampilkan atraksi teatrikal yang menegangkan berhasil memukau ratusan pasang mata penonton.
Namun, di balik riuhnya tepuk tangan penonton dan megahnya kirab hasil bumi, apa sejatinya esensi spiritual terdalam dari Merti Gunung “Mapag Padhang Bulan” ini?
Falsafah *Wulan Hasara* dan *Merti Gunung
Ditemui di sela-sela acara, sesepuh Padepokan Ismoyo Tunggal, Eyang Podho Sunarma, menguraikan makna mendalam dari tema besar yang diusung malam itu. Menurutnya, acara ini sengaja mengambil momentum Wulan Hasara (Bulan Sura) dan dikemas dalam tajuk Mapag Padhang Bulan (menyambut bulan purnama).
“Kenapa kok diadakan, kok temanya Wulan Hasara (Sura), Mapag Padhang Bulan? Temanya adalah Merti Gunung. Nah, Merti Gunung itu, gunung itu isinya apa saja? Orang manembah (menyembah/beribadah) itu, yang disembah adalah Gusti yang di atas. Tapi manusia itu hidupnya berdampingan dengan alam,” tutur Eyang Podho Sunarma dengan bahasa yang sarat ketenangan.
Bagi Eyang Podho, gunung dan bumi bukan sekadar bentang alam mati. Bumi memiliki relasi yang sangat intim dengan siklus hidup manusia Jawa dari lahir hingga tiada.
“Ibaratnya, kita menggunakan bumi. Bumi itu diambil hasilnya, dipakai untuk tidur (menjalani hidup), dan besok juga dipakai untuk kembali (dikubur). Tapi manusia sekarang sudah banyak yang lupa dengan kiblatnya, Mas,” lanjutnya mengingatkan.
Lebih lanjut, Eyang Podho Sunarma menjelaskan bahwa eksistensi sebuah bangsa sangat ditentukan oleh keluhuran budayanya sendiri. Ketika budayanya lestari, orang-orang yang tadinya lupa bisa diingatkan dan digugah kembali kesadarannya. Jika jiwa kawula (warga) sudah tergugah, maka merekalah yang kelak akan ngembani praja atau menyokong dan menjaga kedaulatan negara.
Eyang Podho juga memberikan catatan penting mengenai batas yang jelas antara adat dan institusi agama. “Budaya itu jangan sampai dikait-kaitkan (dibenturkan) dengan agama. Harus bisa memilah. Kalau agama itu manembah kepada Yang Kuasa, tapi kalau adat adalah cara orang hidup di Tanah Jawa, ya adat Tanah Jawa itu yang dilestarikan,” tegasnya.
Pesan Bupati Karanganyar: “Hidup Harus Seimbang”
Kehangatan dan nilai filosofis acara ini kian diperkuat oleh kehadiran **Camat Ngargoyoso, Danang Abimanyu**, yang hadir langsung untuk mewakili Bupati Karanganyar, Rober Christanto. Dalam sambutannya, Camat Danang menyampaikan amanat serta salam takzim dari Bupati kepada seluruh warga dan keluarga besar padepokan yang hadir.
“Beliau menitip pesan kepada kita semuanya, menitip pesan kepada panjenengan semuanya; salam hormat, salam kebak katresnan (penuh kasih sayang),” ungkap Danang Abimanyu menyampaikan pesan Bupati.
Melalui Camat Ngargoyoso, Bupati Rober Christanto secara khusus menekankan pentingnya menjaga modal sosial terbesar masyarakat, yaitu kebersamaan dan kerukunan, terlebih dalam bingkai pelestarian adat budaya lokal.
“Tolong dijaga persatuan dan kesatuannya, guyub rukunnya, gotong royongnya, dan kekompakan kita semuanya,” tambahnya menekankan pentingnya harmoni warga.
Lebih dari sekadar kerukunan sosial, sebuah pesan mendalam mengenai nilai kehidupan juga dititipkan oleh Bupati Karanganyar untuk merespons esensi ritual merti gunung yang tengah berlangsung malam itu. Manusia tidak boleh hanya terlena mengejar hal-hal keduniawian, melainkan harus menyelaraskannya dengan bekal spiritual yang kuat.
“Beliau juga memberikan titipan kepada saya untuk disampaikan kepada panjenengan, bahwasanya hidup harus seimbang. Kejar duniamu, seimbangkan dengan akhiratmu, sehingga dunia dan akhiratmu semuanya seimbang,” pungkas Camat Ngargoyoso memungkasi sambutan, sebelum kemudian menyerahkan titipan khusus dari Bupati Karanganyar kepada pihak panitia penyelenggara.
Melalui sinergi kirab budaya, keindahan tari, gemuruh jathilan, serta bertemunya petuah luhur sesepuh adat dengan pesan sejuk dari jajaran pemerintah daerah, Merti Gunung “Mapag Padhang Bulan” di Padepokan Ismoyo Tunggal tahun ini menjelma menjadi alarm budaya yang indah. Sebuah pengingat lembut di tengah modernitas bahwa akar budaya lokal, kerukunan sosial, dan keselarasan hidup dengan alam akan selalu menjadi tempat terbaik bagi generasi masa kini untuk pulang dan bertumbuh. ( bre suroto )
