FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, atas suksesnya penyelenggaraan tradisi Metri Gunung Mapag Tanggal Padang Bulan. Ritual adat yang digelar di lereng Gunung Lawu ini dinilai menjadi bukti nyata kepedulian warga dalam melestarikan warisan leluhur.
Dalam sambutannya, Hendro Prayitno menegaskan bahwa pemerintah daerah sangat mendukung penuh kegiatan kebudayaan semacam ini. Ia melihat ada nilai sosiokultural yang sangat kuat, di mana penekanan pada kearifan lokal dalam acara ini sebangun dengan upaya menjaga keseimbangan alam dan spiritualitas masyarakat lereng Lawu.
“Kami atas nama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat yang telah menjaga, melestarikan, dan mewariskan tradisi Metri Gunung ini. Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala penghormatan terhadap kearifan lokal,” ujar Hendro Prayitno
Hendro juga menambahkan bahwa tema Mapag Tanggal Padang Bulan memiliki makna filosofis yang dalam. “Padang Bulan” melambangkan cahaya harapan dan kehidupan. Melalui momen ini, diharapkan kerukunan, gotong royong, dan kepedulian terhadap kelestarian alam lingkungan Gunung Lawu dapat terus terjaga demi generasi mendatang.
Benang Merah “Nyegara Gunung” dan Jejak Sambernyawa
Acara sarasehan budaya ini menjadi semakin menarik ketika Eyang Podho Sunarma, sesepuh Pedhepokan Ismaya Tunggal, ikut membedah nilai historis kawasan tersebut. Pandangan spiritualnya melengkapi penekanan kearifan lokal yang dikagumi oleh Kepala Disdikbud.
Menariknya, Eyang Podho Sunarma (sesepuh Pedhepokan Ismaya Tunggal) juga menyinggung kearifan lokal kawasan Lereng Lawu yang secara historis memiliki benang merah yang kuat dengan konsep Nyegara Gunung (Sinergi Laut dan Gunung). Wilayah Karanganyar, Wonogiri, hingga Gunungkidul, secara spiritual memiliki keterikatan adat yang sama, termasuk jejak petilasan Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I).
Konsep Nyegara Gunung ini mengisyaratkan hubungan harmonis yang tak terpisahkan antara gunung (hulu) dan laut (hilir), sebuah tatanan ekologis dan spiritual yang hingga kini masih diuri-uri oleh masyarakat adat di ketiga wilayah tersebut.
Sinergi Budaya untuk Dongkrak Wisata Karanganyar
Lebih lanjut, Hendro Prayitno mengajak seluruh pihak untuk saling bersinergi. Ia berharap ke depannya acara Metri Gunung di Kecamatan Ngargoyoso ini tidak hanya dinikmati oleh warga lokal, melainkan bisa dikemas secara lebih luas sebagai daya tarik wisata budaya malam hari (night cultural tourism) bagi wisatawan yang menginap di kawasan Kemuning.
“Mari kita bersinergi. Ke depan, kegiatan-kegiatan ini bisa disosialisasikan kepada masyarakat di luar Kecamatan Ngargoyoso, tingkat Jawa Tengah, bahkan Indonesia. Kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan siap menjembatani agar budaya-budaya adiluhung kita semakin dikenal luas,” pungkas Hendro. ( bre )
