Foto : Sosok Empu perempuan Intan Anggun Pangestu
FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Aroma wewangian dan atmosfer sakral menyelimuti Halaman Kantor Bupati Karanganyar pada Jum’at (3/7/2026). Di sana, sebuah pusaka istimewa bernama Kyai Jaran Bigar tengah menjalani prosesi jamasan (penyucian). Namun, di balik fisik keris yang gagah dan berwibawa itu, ada kisah modern yang memikat tentang siapa penciptanya.
Keris ini lahir dari kolaborasi dua sosok dengan latar belakang yang bak bumi dan langit: Thoufik Pamudi Nugroho (34), seorang empu otodidak yang mengawali kariernya sebagai pedagang, dan Intan Anggun Pangestu (32), seorang empu perempuan langka yang menempa ilmunya dari bangku menara akademis.
Kehadiran Intan di dunia perkerisan ibarat oase menyegarkan. Di tengah stigma bahwa dunia besalen (tempat menempa keris) adalah wilayah mutlak kaum adam, Intan membuktikan bahwa kelembutan seorang perempuan dan ketajaman akademis mampu melahirkan mahakarya yang diakui daerah.
Berawal dari ‘Iseng’ dan Beasiswa ISI Solo
Saat ditemui, Intan menceritakan kisahnya dengan raut wajah hangat. Siapa sangka, keputusannya menceburkan diri ke dalam kepulan asap dan pijar api tungku tempa berawal dari sebuah ketidaksengajaan.
“Awalnya iseng, karena ada tawaran beasiswa belajar di dunia keris, jadi saya berminat,” kenang Intan sembari tersenyum.
Langkah “iseng” itu nyatanya menuntun Intan mendalami Keris dan Senjata Tradisional di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sejak tahun 2018 hingga lulus pada 2022. Di kampus seni ternama itulah, Intan tidak hanya belajar menempa besi, tetapi juga membedah filosofi, metalurgi, serta sejarah panjang sebilah keris secara ilmiah.
Selepas lulus, panggilan jiwa membuatnya tidak bisa pudar dari dunia ini. Ia terus aktif melestarikan budaya adiluhung tersebut hingga puncaknya dipercaya menggarap keris pusaka daerah, Kyai Jaran Bigar.
Mendobrak Ruang Eksklusif Laki-Laki
Menjadi seorang empu perempuan di era modern jelas bukan perkara mudah. Menurut Intan, tantangan terberatnya bukan saat mengayunkan palu berat atau menahan panasnya bara api, melainkan melawan arus dominasi gender dan mencetak generasi penerus.
“Tantangannya membuat regenerasi selanjutnya, karena dunia perkerisan itu sangat-sangat eksklusif dan kebanyakan ranahnya laki-laki,” ungkap Intan secara jujur.
Secara historis, Indonesia sebenarnya tidak asing dengan sosok perempuan pembuat keris. Sebut saja legenda Nyi Sombro dari zaman Kerajaan Pajajaran, atau di era modern ada Ika Arista dari Desa Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura. Kini, nama Intan Anggun Pangestu resmi masuk dalam daftar elite perempuan perawat peradaban tersebut. Ia berharap kehadirannya bisa memicu minat perempuan-perempuan lain untuk tidak tabu menyentuh seni tradisi ini.
Duet Epik Bersama Sang Mantan ‘Kolekdol’
Dalam melahirkan Kyai Jaran Bigar, Intan melengkapi keahlian ilmiahnya dengan naluri praktis dari Thoufik Pamudi Nugroho. Berbeda dengan Intan yang berjalur akademik, Thoufik adalah representasi empu yang lahir dari benturan keadaan.
Sebelum menjadi empu di Besalen Sanakrida Brajangga, Kelurahan Bejen, Karanganyar, Thoufik adalah seorang pemerhati dan kolektor keris.
“Awal mula tertarik, saya hanya pemerhati keris, lama-lama jadi kolekdol—koleksi trus didol (dijual),” seloroh Thoufik mengenang masa lalunya saat ditemui pada Jum’at dini hari.
Namun, hantaman Pandemi Covid-19 pada akhir 2019 membuat bisnis jual-beli pusakanya macet total. Kesulitan ekonomi itulah yang justru menuntun jalannya untuk naik kelas: dari sekadar penjual menjadi pencipta. Ia belajar menempa keris secara otodidak.
Enam Bulan Menempa Sejarah di Pendopo RM Said
Kolaborasi apik antara empiris-otodidak Thoufik dan teoritis-akademis Intan akhirnya bersemi pada tahun 2024. Bertempat di Pendopo RM Said, Rumah Dinas Bupati Karanganyar, keduanya—dibantu oleh masyarakat sekitar—mulai menempa bakal pusaka Kyai Jaran Bigar.
Prosesnya tidak instan. Butuh waktu enam bulan penuh kesabaran, cucuran keringat, dan ketelitian tingkat tinggi hingga keris tersebut selesai sempurna, untuk kemudian diserahkan ke Rumah Dinas Bupati.
Kini, setelah melalui proses penjamasan, Kyai Jaran Bigar bukan lagi sekadar sebilah besi berpamor. Ia adalah simbol harmonisasi zaman: sebuah pusaka yang lahir dari rahim akademis seorang perempuan modern dan ketangguhan seorang pemuda otodidak yang menolak menyerah pada keadaan. ( wd/ bre )
