FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Peta persaingan bisnis ritel di Kabupaten Karanganyar bersiap menghadapi babak baru. Sebanyak 177 warung kelontong tradisional milik warga kurang mampu (mustahik) kini dipersenjatai modal dan manajemen modern untuk menantang dominasi gurita ritel modern yang kian menjamur.
Langkah berani ini diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Karanganyar melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Z-Mart. Tak tanggung-tanggung, dana zakat sebesar Rp1.437.200.000 (Rp1,4 miliar lebih) digelontorkan untuk merombak total wajah warung-warung kelontong tersebut.
Setiap pelaku usaha mikro terpilih mendapatkan suntikan stimulus masing-masing sebesar Rp8.000.000.
Bukan Sekadar Modal, Warung Di-branding dan Digitalisasi
Ketua Baznas Karanganyar, Kafindi, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan sosial, melainkan sebuah intervensi bisnis yang menyeluruh. Warung kelontong madura atau tradisional yang selama ini terkesan apa adanya, akan dipaksa “bersolek” agar kompetitif.
“Fokus kami adalah transformasi. Melalui program ini, kita intervensi melalui pemberian modal usaha, renovasi, branding warung, hingga pelatihan manajemen ritel. Tujuannya agar warung-warung kelontong ini lebih mandiri, kompetitif, dan mampu bersaing dengan toko ritel modern,” jelas Kafindi.
Hebatnya lagi, Baznas tidak melepas para pedagang begitu saja. Guna memastikan pengelolaan keuangan berjalan profesional, para pemilik warung akan dikawal oleh tim pendamping rutin dan dipasangi sistem aplikasi pengelolaan usaha modern berbasis digital.
Bupati Karanganyar: “Kalau Perlu, Buka 24 Jam!”
Niat matang Baznas ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Karanganyar, Rober Christanto. Hadir langsung dalam peluncuran program, Rober yang mengaku pernah melakoni bisnis warung kelontong ini langsung membakar semangat para warga.
Ia meminta para penerima manfaat tidak inferior dan harus berani bertarung secara sehat di pasar ritel.
“Pemerintah dan Baznas hadir di tengah-tengah panjenengan (anda). Maka dari itu, setelah menerima bantuan ini, panjenengan semua harus makin semangat. Jangan sampai kalah bersaing. Buka warung dengan maksimal, kalau perlu bisa bersaing 24 jam penuh,” tegas Rober memotivasi.
Misi Besar: Dari Penerima Zakat Menjadi Pembayar Zakat
Target akhir dari proyek bernilai miliaran ini tergolong ambisius namun realistis. Dalam jangka waktu satu hingga dua tahun ke depan, usaha mikro ini diharapkan bisa berkembang pesat (remboko).
Rober berharap, program Z-Mart ini bisa memutus rantai kemiskinan secara permanen dengan mengubah status sosial para pedagang.
“Harapan kita bersama, didoakan oleh para kiai yang hadir, bantuan ini berkah. Targetnya, tahun-tahun depan panjenengan semua tidak lagi menjadi mustahik (penerima zakat), melainkan naik kelas menjadi muzaki (pembayar zakat) yang gantian bisa membantu warga lainnya,” pungkas Bupati.
Dengan perombakan manajemen dan modal segar ini, ratusan warung kelontong di pelosok Karanganyar kini siap membuktikan bahwa usaha lokal pun punya taji untuk bersaing di era modern. ( rls/ bre )
