Menuju Satu Dekade, Bank Jateng Borobudur Marathon 2026 Tambah Kuota Jadi 12.500 Pelari

Fokus Jateng – MAGELANG — Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2026 membuka peluang lebih besar bagi para pelari untuk merasakan pengalaman berlari di kawasan Candi Borobudur.

Memasuki satu dekade sejak pertama kali digelar pada 2017, penyelenggara menambah kuota peserta menjadi 12.500 orang setelah pada penyelenggaraan tahun lalu sekitar 46.000 pelari berebut hanya 11.500 slot.

Pendaftaran BJBM 2026 dibuka mulai 10 Juli 2026 melalui sistem ballot atau undian. Ajang yang mengusung tema “Decade of Legacy” itu akan digelar pada 15 November 2026 di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Dengan tiga nomor lomba, yakni 10 kilometer, half marathon (21 kilometer), dan marathon (42 kilometer).

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, penambahan kuota dilakukan untuk memberi kesempatan lebih luas kepada pelari yang selama ini belum berhasil memperoleh slot.

“Tahun 2026 ini dibuka pesertanya 12.500,” kata Sumarno, usai mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin, dalam peluncuran BJBM 2026 di Balkondes Ngadiharjo Ngabean, Kabupaten Magelang, Rabu malam, 8 Juli 2026.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, menurut Sumarno, Borobudur Marathon telah berkembang menjadi lebih dari sekadar perlombaan lari. Ajang ini menjadi bagian dari strategi Pemprov Jawa Tengah untuk mengampanyekan gaya hidup sehat, memperkuat sport tourism, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ia berharap semakin banyak pelari yang datang bersama keluarga dan menikmati destinasi wisata di kawasan Borobudur. Dengan begitu, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga pelaku UMKM, hotel, restoran, homestay, hingga masyarakat sekitar.

“Tentu saja perputaran uang di kawasan Borobudur kami berharap meningkat ya. (Tahun) kemarin hampir Rp67 miliar, kami berharap mudah-mudahan (tahun ini) bisa tembus Rp100 miliar,” tandasnya.

Namun bagi Sumarno, warisan terbesar Borobudur Marathon selama satu dekade bukan hanya angka ekonomi. Melainkan tumbuhnya rasa memiliki dari masyarakat Borobudur terhadap event tersebut.

Ia mengenang ketika penyelenggaraan mulai dikelola bersama pada 2017. Kala itu, masyarakat belum banyak terlibat. Kini, ribuan warga justru menjadi bagian penting dari kemeriahan Borobudur Marathon dengan memberikan semangat di sepanjang lintasan.

“Kami ingin Borobudur Marathon menjadi gawenya masyarakat Borobudur. Nilai yang paling penting adalah kebersamaan dan gotong royong. Itulah warisan yang harus terus dijaga agar event ini tetap berkelanjutan,” katanya.

Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko mengatakan, keberhasilan menjaga Borobudur Marathon selama satu dekade merupakan buah kolaborasi seluruh pihak.

Menurutnya, event ini telah menjelma menjadi salah satu ajang lari paling bergengsi di Indonesia. Sekaligus memberikan manfaat besar bagi sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan UMKM.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Bank Jateng kembali menghadirkan Bank Jateng Pawone dengan melibatkan lebih dari 70 UMKM lokal yang telah dikurasi untuk menyajikan kuliner tradisional bagi para peserta.

Selain itu, lanjut dia, Bank Jateng juga melanjutkan program Bank Jateng Young Talent sebagai wadah pembinaan pelari muda berbakat.

“Kami memiliki pelari-pelari muda yang kita harapkan bisa ikut partisipasi dan mudah-mudahan bisa menjadi atlet-atlet yang berprestasi,” ujarnya.

Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An mengatakan, sejak awal penyelenggaraan, cita-cita terbesar yang ingin diwujudkan adalah menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar Borobudur.

Menurutnya, dampak yang kini dirasakan warga menjadi bukti bahwa Borobudur Marathon telah tumbuh menjadi milik bersama dan membawa manfaat nyata bagi lingkungan.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo menyebut, Borobudur Marathon kini telah menjadi salah satu event lari yang paling dinanti para pelari. Pada penyelenggaraan tahun lalu, peserta datang dari 39 negara. Sementara sekitar 10.000 warga ikut memberikan semangat di sepanjang lintasan.

Menurutnya, antusiasme masyarakat itulah yang menjadi pembeda Borobudur Marathon dibandingkan event lari lainnya. Dukungan warga yang memenuhi titik-titik cheering membuat para pelari selalu membawa pulang pengalaman yang berkesan dan ingin kembali mengikuti ajang tersebut.

“Di banyak kota, klakson kendaraan terdengar karena jalan ditutup. Di Borobudur justru minim, karena masyarakat sudah menganggap Borobudur Marathon sebagai event mereka,” katanya.

Perayaan satu dekade Borobudur Marathon juga akan menjadi momen istimewa bagi para pelari. Penyelenggara menyiapkan medali apresiasi khusus bagi peserta yang telah mengikuti Borobudur Marathon sedikitnya lima kali, termasuk pada edisi 2026.

Medali tersebut menjadi simbol perjalanan sepuluh tahun Borobudur Marathon sekaligus penghargaan bagi para pelari yang setia menjadi bagian dari sejarah ajang ini.(Ist/***)