FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Jagat media sosial dan grup WhatsApp warga Karanganyar sempat dibuat ketar-ketir dengan kabar hilangnya SMP (16), seorang remaja asal Desa Ngringo, Kecamatan Jaten. Sempat beredar rumor dramatis bahwa ia tenggelam di Sungai Bengawan Solo, untungnya cerita ini berakhir dengan happy ending yang bikin mengelus dada sekaligus tersenyum lega.
Bukan hanyut terbawa arus sungai, remaja tangguh ini ternyata hanya sedang “hanyut” oleh kerasnya tekat mandiri: dia pergi ke Yogyakarta untuk mencari lowongan pekerjaan!
Terbongkar Lewat Jalur ‘Jalur Langit’ TikTok
Misteri keberadaan SMP akhirnya terpecahkan berkat kecanggihan teknologi dan insting detektif seorang teman bernama Vito. Alih-alih memberikan sinyal lewat pesan formal, SMP memberikan kabar kejutannya lewat Direct Message (DM) TikTok kepada Vito.
“Aku neng Jogja,” kurang lebih begitu isi pesan singkat yang seketika membuat keluarga yang cemas langsung bernapas lega.
Kasi Humas Polres Karanganyar, Iptu Mulyadi, mewakili Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, membenarkan misi “penyelamatan” modern ini. Pihak keluarga yang mengetahui posisi SMP langsung menyusun strategi penjemputan yang persuasif.
Rayuan Maut Berhadiah Penjemputan Ayah
Membuat SMP mau pulang ternyata butuh trik khusus. Lewat akun TikTok Vito, SMP “dirayu” sedemikian rupa agar mau membagikan lokasi terkininya (share loc). Remaja ini memberikan syarat: dia hanya mau memberikan alamatnya asalkan yang menjemput adalah ayah kandungnya sendiri. Sebuah bukti manis bahwa sejauh apa pun anak melangkah, pelukan ayah tetap jadi tempat pulang paling aman.
Begitu lokasi di stasiun Tugu Yogyakarta dikirimkan, sang ayah langsung tancap gas. Pada Rabu (8/7/2026) dini hari pukul 03.00 WIB, sang ayah meluncur menggunakan kereta api demi menjemput sang anak tercinta. Pertemuan hangat pun terjadi di Stasiun Tugu, dan SMP langsung diboyong pulang ke rumah neneknya di Perum Winong, Ngringo.
Takut Pulang Karena Telanjur ‘Viral’
Usut punya usut, ada alasan kocak
sekaligus mengharukan mengapa SMP sempat enggan pulang ke Karanganyar. Saat sedang asyik mencari kerja di Kota Gudeg, ia syok melihat namanya viral di media sosial dengan narasi tragis telah melompat ke Sungai Bengawan Solo.
“SMP ini ternyata merasa takut untuk kembali pulang karena melihat kabar hoaks di luar sana yang menyebut dirinya bunuh diri di sungai,” kata Iptu Mulyadi.
Ketakutan dihakimi massa dan rasa canggung akibat berita palsu itulah yang membuatnya sempat bertahan di Jogja. Beruntung, kesalahpahaman ini selesai dengan pelukan hangat keluarga, bukan dengan tim SAR.
Kini, SMP sudah berkumpul kembali bersama keluarga dalam keadaan sehat walafiat. Sebuah pengingat bagi kita semua agar tidak cepat membuat kesimpulan dramatis di media sosial, karena siapa tahu, anak yang dicari justru sedang berjuang mencari masa depan di kota sebelah. ( rls / bre )
