Swasembada Telur Tercapai, Serapan di MBG Rendah

fokusjateng.com –  SOLO-Capaian swasembada telur nasional yang telah diraih sejak 2024 menyisakan catatan di sisi hilir. Di tengah produksi yang melimpah, serapan telur—terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)—dinilai masih belum optimal.

Kondisi ini membuat sebagian peternak menghadapi tekanan pasar, seiring pasokan yang tinggi belum sepenuhnya diimbangi dengan penyerapan yang memadai.

Sekitar 200 peternak ayam petelur dari berbagai daerah sebelumnya mendeklarasikan capaian swasembada telur nasional. Produksi disebut terus meningkat, bahkan peternak rakyat secara mandiri memperluas usaha dan menambah populasi ternak.

Namun di balik capaian tersebut, peternak menilai masih diperlukan peran lebih kuat dalam menjaga keseimbangan pasar, terutama antara pasokan dan harga.

Presidium Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, mengatakan swasembada tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga perlu diikuti pengelolaan pasar yang berimbang.

Menurutnya, kebijakan yang terlalu berfokus pada produksi berpotensi menimbulkan ketimpangan jika tidak diiringi pengaturan stabilisasi harga dan penyerapan.

Harapan sempat diarahkan pada program MBG sebagai salah satu saluran penyerapan utama. Namun dalam pelaksanaannya, serapan telur disebut masih relatif kecil, bahkan diperkirakan baru sekitar satu persen.

“Sejumlah kendala teknis di lapangan turut menjadi perhatian, termasuk pola konsumsi yang belum konsisten. Kondisi ini dinilai belum sejalan dengan tujuan program dalam meningkatkan gizi sekaligus mendukung sektor peternakan,” katanya. Minggu 3 Mei 2026.

Di sisi lain, tekanan juga dirasakan pada tingkat harga. Harga telur di kandang dilaporkan turun hingga sekitar Rp21.000 per kilogram dari sebelumnya Rp26.500, di tengah kenaikan biaya pakan dan jagung yang mencapai Rp6.700–Rp7.100 per kilogram.

Kombinasi tersebut membuat margin usaha peternak semakin tertekan.

Pengurus PINSAR Petelur Nasional, Suwardi, menambahkan bahwa serapan yang belum optimal membuat produksi yang melimpah tidak terserap maksimal di pasar.

Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat juga turut memengaruhi kondisi tersebut. Konsumsi rumah tangga yang belum pulih membuat peredaran telur di pasar menjadi kurang optimal.

Secara nasional, produksi telur saat ini disebut mencapai sekitar 18 ribu ton atau setara 280 juta butir per hari. Sementara kebutuhan untuk program MBG diperkirakan mencapai 83,5 juta butir, namun realisasinya masih berada di bawah angka tersebut.

Peternak pun mendorong adanya penguatan penyerapan melalui berbagai program, tidak hanya MBG, tetapi juga intervensi gizi untuk ibu hamil dan penanganan stunting.

Langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi ganda, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak.

Selain itu, peternak juga menilai pentingnya penataan ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir, termasuk distribusi antar daerah agar pasokan lebih merata.

Dengan produksi yang dinilai telah mencukupi kebutuhan nasional, peternak berharap koordinasi distribusi dapat diperkuat sehingga kelebihan pasokan di satu daerah dapat disalurkan ke wilayah lain yang membutuhkan.

Tanpa langkah tersebut, surplus produksi dikhawatirkan akan terus menekan harga dan berdampak pada keberlangsungan usaha peternak rakyat. (ANur/**)