JCI Solo Jalin Sister Chapter dengan JCI Surigao Filipina, Buka Peluang Kerja Sama Budaya hingga Industri Nikel

Junior Chamber International atau JCI Solo resmi menjalin kerja sama Twinning Chapter dengan JCI Surigao, Filipina, dalam penandatanganan Sister Chapter Agreement pada Asia Pacific Conference JCI di Niigata, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026. (Istimewa /Fokusjateng.com)

Fokusjateng-SURAKARTA-Junior Chamber International (JCI) Solo menorehkan sejarah baru di tingkat internasional dengan menandatangani program Twinning Chapter atau Sister Chapter bersama JCI Surigao, Filipina. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung dalam ajang Asia Pacific Conference (ASPAC) JCI di Niigata, Jepang, Sabtu 13 Juni 2026, setelah melalui proses penjajakan selama hampir dua tahun.

Presiden JCI Solo, Pulung Priyo Utomo, menandatangani perjanjian tersebut bersama Presiden JCI Surigao, Jair Balberan, sebagai langkah awal memperkuat kolaborasi lintas negara di berbagai sektor strategis.

“Solo dan Surigao mungkin berbeda pulau dan memiliki karakter yang berbeda. Namun justru perbedaan itu menjadi kekuatan yang membuat kolaborasi ini menarik dan saling melengkapi,” ujar Pulung.

Ia menjelaskan, Solo dikenal sebagai pusat budaya Jawa, pendidikan, serta pengembangan UMKM kreatif. Sementara Surigao merupakan kawasan strategis di Filipina yang memiliki cadangan nikel terbesar dan menjadi salah satu pusat industri pertambangan serta jalur maritim penting.

Melalui kerja sama tersebut, kedua organisasi melihat peluang besar untuk mendorong pengembangan industri, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga lingkungan hidup.

Di sektor industri, Surigao yang kaya sumber daya nikel memiliki peluang berkolaborasi dengan ekosistem pendidikan dan manufaktur di Solo.

Kerja sama dapat diwujudkan melalui transfer teknologi pengolahan nikel yang ramah lingkungan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia manufaktur, hingga pengembangan usaha bersama bagi UMKM yang mendukung sektor pertambangan.

Pada bidang pendidikan, sejumlah perguruan tinggi di Solo seperti Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berpotensi menjalin kerja sama dengan Surigao del Norte State University. Bentuk kolaborasi yang dibahas antara lain pertukaran mahasiswa, riset bersama mengenai pertambangan berkelanjutan (green mining), serta rehabilitasi lahan bekas tambang.

Sektor pariwisata juga menjadi fokus pengembangan. Solo dengan kekayaan budaya, batik, keraton, dan kuliner khas dapat dipadukan dengan potensi wisata alam dan bahari Surigao yang terkenal dengan destinasi menyelam serta festival budaya Bonok-Bonok.

“Kami membayangkan promosi wisata bersama dengan konsep ‘From Keraton to Nickel Coast’, yang memperkenalkan keunikan kedua daerah kepada masyarakat internasional,” kata Pulung.

Sementara di bidang ekonomi, kerja sama diarahkan untuk memperluas akses pasar produk UMKM Solo ke Filipina, termasuk batik, kerajinan kulit, dan furnitur. Sebaliknya, Surigao dapat menjadi pemasok bahan baku tertentu bagi pelaku usaha kreatif di Solo.

Tak hanya itu, isu lingkungan juga menjadi perhatian bersama. Solo memiliki pengalaman dalam pengelolaan kawasan Sungai Bengawan Solo, sedangkan Surigao menghadapi tantangan dampak aktivitas pertambangan. Kedua pihak membuka peluang riset dan pengembangan teknologi energi terbarukan serta pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Kerja sama ini merupakan hasil dari proses panjang yang telah dirintis oleh para mantan Presiden JCI Solo, William Sandika dan Soni Suharyono, sejak dua tahun lalu.

Menurut Pulung, selama proses penjajakan kedua organisasi melakukan berbagai pembahasan dan kajian untuk memastikan setiap sektor kerja sama memiliki manfaat nyata dan peluang keberhasilan yang tinggi.

Ia juga mengapresiasi peran Serra Argo Rianda, tokoh asal Solo yang saat ini menjabat sebagai perwakilan di tingkat global JCI, karena turut menjembatani komunikasi dan kebutuhan kedua organisasi.

“Beruntung pada saat yang sama kita memiliki Serra Argo Rianda yang berada di jajaran JCI Global sehingga dapat membantu mempertemukan kebutuhan dan visi kedua organisasi untuk bekerja sama,” ujarnya.

Penandatanganan Sister Chapter tersebut turut disaksikan oleh Presiden Dunia JCI, Alejandra Castillo, dan Presiden JCI Indonesia, Siegfried Listijosuputro.

Keduanya berharap kolaborasi antara Solo dan Surigao dapat menjadi model kerja sama internasional yang memadukan kekuatan budaya dan sumber daya alam.

“Solo membawa nilai budaya dan kreativitas sumber daya manusia, sementara Surigao membawa kekuatan sumber daya alam dan akses pasar. Kami berharap kerja sama ini dapat berkembang menjadi kemitraan yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi kedua daerah di masa depan,” kata Pulung.

Kerja sama ini sekaligus menegaskan peran JCI Solo dalam membangun jejaring internasional yang mampu membuka peluang investasi, pertukaran pengetahuan, dan penguatan ekonomi berbasis kolaborasi antarwilayah di kawasan Asia Pasifik. ( *Thia/**)