Safari Talk Bahas Peran Lembaga Konservasi Orangutan

Diskusi Safari Talk bertajuk “Orangutan dan Masa Depan Konservasi” di Radya Litera Multifunction, Griya Solopos, Kamis, 22 Oktober 2026. Forum yang diselenggarakan Solopos Media Group bekerja sama dengan PT Taman Safari Indonesia itu membahas peran lembaga konservasi, edukasi masyarakat, serta kolaborasi dalam menjaga kelestarian orangutan. (*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA-Lembaga konservasi di luar habitat alami satwa atau ex situ memiliki peran dalam mendukung pelestarian satwa liar, termasuk orangutan. Upaya ini perlu berjalan beriringan dengan konservasi di habitat alami atau in situ, disertai pengelolaan yang memperhatikan kebutuhan dan perilaku satwa.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Safari Talk bertajuk “Orangutan dan Masa Depan Konservasi” di Radya Litera Multifunction, Griya Solopos, Kamis, 22 Oktober 2026. Forum yang diselenggarakan Solopos Media Group bekerja sama dengan PT Taman Safari Indonesia itu membahas peran lembaga konservasi, edukasi masyarakat, serta kolaborasi dalam menjaga kelestarian orangutan.

Direktur Utama PT Taman Safari Indonesia Aswin Sumampau mengatakan, pengelolaan satwa di lembaga konservasi membutuhkan evaluasi dan penyesuaian secara berkelanjutan. Hal ini terutama berlaku bagi orangutan yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi dan mampu menunjukkan perilaku yang tidak selalu mudah diprediksi.

Aswin mencontohkan kejadian beberapa bulan sebelumnya ketika orangutan bernama Didi keluar dari kawasan Solo Safari dan mendatangi warung makan di sekitarnya. Menurut dia, peristiwa itu menjadi bahan evaluasi bagi tim kurator dan pengelola untuk memperbaiki fasilitas serta sistem pengawasan satwa.

“Orangutan memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan anak berusia enam tahun. Karena itu, pengelolaan fasilitas dan pengawasannya harus terus disesuaikan dengan perilaku serta kebutuhan satwa,” ujarnya.

Aswin juga mengapresiasi respons masyarakat Surakarta terhadap kejadian tersebut. Warga, kata dia, menunjukkan sikap dewasa dengan tidak langsung memandang satwa itu sebagai ancaman.

Ia menilai konservasi di luar habitat alami tidak dapat dipisahkan dari upaya pelestarian satwa di alam. Kedua pendekatan tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa liar.

 

Edukasi Melalui Konservasip

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan, keberadaan Solo Safari dapat mendukung pengembangan pariwisata berbasis pengalaman dan pengetahuan. Konsep itu sejalan dengan visi Solo sebagai the Center of Knowledge.

Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Pendidikan juga telah bekerja sama dengan Solo Safari untuk memberikan kesempatan kepada siswa belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran secara langsung di lokasi.

Menurut Astrid, edukasi mengenai pelestarian satwa perlu disertai tindakan nyata untuk menjaga lingkungan. Generasi muda dapat mengambil bagian melalui kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menyebarkan informasi yang benar tentang satwa liar.

“Menjaga satwa tidak cukup hanya dengan menyelamatkan satwa yang akan menghadapi masalah atau tantangan di hutan. Tetapi yang paling penting kita menjaga lingkungan hidup yang menjadi habitatnya,” kata Astrid.

Dalam sesi diskusi, Dosen Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Puguh Karyanto memaparkan asal-usul, persebaran, dan karakteristik orangutan. Pembahasan juga mencakup kemiripan genetik orangutan dengan manusia serta kemampuan kognitif dan emosional satwa tersebut.

Puguh menyebutkan, kemiripan genetik orangutan dan manusia mencapai sekitar 97 persen. Meski demikian, terdapat perbedaan genetik yang membedakan kedua spesies tersebut.

“Dia memiliki struktur genetik yang 97 persen mirip dengan kita (manusia). Tapi jangan khawatir, 3 persen itu kira-kira ada 10 juta kombinasi yang akan membedakan kita dengan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Surakarta Sudadi menjelaskan, lembaga konservasi ex situ seperti Solo Safari memiliki landasan hukum dan peran dalam mendukung pelestarian satwa langka, termasuk orangutan.

Ia menilai pemeliharaan di lembaga konservasi dapat mendukung kehidupan sosial dan perkembangbiakan orangutan apabila kebutuhan satwa terpenuhi.

“Di situ (Solo Safari) dia (orangutan) tidak hidup sendiri, tidak merana, tidak jomblo. Ada pasangannya dan bisa melahirkan. Artinya tidak kalah seperti yang di in situ atau di alamnya,” kata Sudadi.

Adapun Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia, dokter hewan Bongot Huaso Mulia, turut menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Safari Talk diikuti mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum. Peserta juga menyampaikan berbagai pertanyaan dalam sesi tanya jawab mengenai orangutan dan upaya pelestariannya. (*Thia/***)