Standar Baru Susu Formula dari Susu Segar Hadir di Indonesia, Proses Produksi Jadi Sorotan

Fokusjateng-JAKARTA-Perhatian orang tua dalam memilih susu formula untuk anak kini tidak hanya tertuju pada kandungan gizi yang tercantum di label kemasan. Proses produksi yang dilalui susu sebelum dikonsumsi anak juga mulai menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kualitas produk.

Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, berbagai inovasi di industri susu formula terus berkembang. Salah satunya adalah hadirnya standar baru susu formula berbahan dasar susu segar yang diproduksi melalui metode One-Step Fresh, yakni proses pengolahan yang lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

Doktor Ilmu Gizi, Dr. Arif Sabta Aji, S.Gz, mengatakan banyak orang tua sudah terbiasa memeriksa kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral pada label susu. Namun, menurutnya, komposisi bahan dan proses pengolahan produk juga perlu diperhatikan.

“Nama bahan yang tercantum di urutan pertama pada daftar komposisi mencerminkan kandungan utama dari produk tersebut. Karena itu, orang tua perlu meneliti komposisi produk secara lebih mendalam,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu 17 Juni 2026.

Dalam industri susu formula, produk umumnya melalui berbagai tahapan pengolahan seperti pencampuran, pemanasan, homogenisasi, evaporasi, hingga pengeringan. Proses yang panjang tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas produk.

Namun sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan berulang dan pengolahan intensif berpotensi mengubah struktur protein serta komponen penting lainnya dalam susu.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kualitas gizi, daya cerna, hingga kemampuan tubuh menyerap nutrisi.

Karena itu, pendekatan produksi yang lebih sederhana mulai dikembangkan. Salah satunya melalui penggunaan susu segar yang langsung diolah menjadi susu bubuk dalam satu rangkaian proses produksi. Metode ini dinilai dapat membantu menjaga kesegaran bahan baku serta meminimalkan perubahan kandungan gizi selama proses pengolahan.

Perkembangan teknologi pangan tersebut dinilai membuka perspektif baru bagi orang tua bahwa kualitas susu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya zat gizi tambahan yang terkandung di dalamnya, tetapi juga oleh bagaimana nutrisi tersebut dipertahankan sejak bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi.

Meski demikian, Arif menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan pilihan terbaik bagi bayi, khususnya pada enam bulan pertama kehidupan.

“Penggunaan susu formula sebagai penunjang hanya disarankan apabila terdapat kondisi medis tertentu. Orang tua tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan pilihan asupan untuk anak,” katanya.

Ia berharap masyarakat semakin kritis dalam memahami informasi produk pangan anak, tidak hanya dari sisi kandungan gizi, tetapi juga proses produksi yang berperan dalam menjaga kualitas nutrisi demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (*Thia/**)