Lereng Lawu Membara, Warga Anggrasmanis Jenawi Karanganyar Bersiap Tarung Nyawa Demi Setetes Air

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Bagi warga Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, ancaman kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu bukan sekadar tentang batang-batang pohon yang hangus dilalap si jago merah. Ini adalah pertempuran untuk mempertahankan napas kehidupan mereka sehari-hari: saluran pipa air bersih.

Kobaran api yang semula muncul di wilayah Tawangmangu kini merembet cepat, menerjang kawasan Ngargoyoso hingga kian mengepung Kecamatan Jenawi. Angin kencang pegunungan di malam hari bak menyiramkan bensin, membuat titik api merambat liar tanpa bisa dihadang manusia.

Kini, api hanya berjarak sekitar 100 hingga 200 meter dari Pos 3 Jalur Pendakian Via Candi Cetho. Tepat di sana, terbentang pipa-pipa vital yang mengalirkan air dari Sendang Mancan — sumber kehidupan utama yang menyokong ribuan kepala di Desa Anggrasmanis untuk minum, memasak, dan bertahan hidup.

Malam yang Cemas, Fajar yang Dinanti

Kondisi medan yang curam serta bahaya yang mengintai di kegelapan membuat tim gabungan dan relawan tak bisa berbuat banyak saat malam tiba. Aturan keselamatan melarang pergerakan di tengah gulita lereng gunung.

“Malam kan tidak boleh ada pergerakan. Kita lepas, ternyata anginnya besar dan mengarah ke sini (Jenawi),” ujar Camat Jenawi, Canang Kori Adidamar, menceritakan kecemasan warga saat melihat api kian mendekat di malam hari.

Meski helikopter water bombing dikerahkan untuk memadamkan api dari udara, faktor cuaca yang tak menentu kerap menjadi penghalang.

Namun, warga dan relawan tak tinggal diam menyelimuti diri dalam kepasrahan. Di balik kabut asap dan hawa panas yang menyengat, keberanian tumbuh.

Bahu-Membahu Menjaga “Napas” Desa

Sejak Selasa (20/10/2026), sejumlah relawan nekat merangsek mendekati lokasi untuk memantau pergerakan si jago merah. Mereka memasang mata dan telinga, memastikan pipa-pipa plastik penyambung asa warga tak leleh terpanggang.

Rabu (21/10/2026) pagi ini, pertempuran sesungguhnya dimulai. Rombongan relawan dan warga bergerak menuju Pos 3. Dengan peralatan seadanya dan peluh yang bercucuran, mereka bahu-membahu membuat sekat bakar (firebreak) demi melokalisir api.

Langkah ini bukan cuma soal memadamkan kebakaran hutan, melainkan ikhtiar menjaga agar dapur warga Anggrasmanis tetap bisa mengepul dan keran-keran rumah mereka tak mendadak kering.

Di saat lereng Lawu diuji oleh amukan api dan angin malam, kebersamaan para relawan dan warga menjadi benteng terakhir yang menjaga harapan itu tetap menyala. ( bre )