Bedah Buku Digitalisasi Pembelajaran,  Digitalisasi Pendidikan Butuh Integrasi Teknologi, Filosofi, dan Kearifan Lokal

Fokus Jateng – SOLO,-Pendidikan terus bergerak mengikuti dinamika zaman, terutama di tengah arus transformasi digital yang semakin masif. Digitalisasi pembelajaran menjadi salah satu pilar utama dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, yang menuntut fleksibilitas, aksesibilitas, serta inovasi dalam proses belajar mengajar. Langkah dan upaya digitalisasi pendidikan tercermin dalam kegiatan bedah buku berjudul *Digitalisasi Pembelajaran* yang diselenggarakan pada Selasa, 15 April 2026 di De’Lima Surakarta.

Buku yang ditulis secara bersama oleh Dr. Bramastia, M.Pd., Dana Ainal Hasan, S.Pd., dan Riska Nabila Zenia Putri, S.Pd. ini mengangkat isu strategis mengenai transformasi pendidikan melalui integrasi teknologi, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga pedagogis, filosofis, dan kultural. Buku ini hadir sebagai refleksi kritis sekaligus tawaran solusi terhadap berbagai tantangan implementasi digitalisasi pembelajaran di Indonesia. Bedah buku yang berjudul *Digitalisasi Pembelajaran* memberikan nuansa baru, mengingat kebijakan pemerintah terbaru dalam menseragamkan perangkat pendidikan supaya pemerataan Pendidikan dapat terealisasi.

Dalam pengantar buku, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI menegaskan bahwa agenda digitalisasi pembelajaran merupakan program dalam mewujudkan pendidikan yang adaptif dan berdaya saing global. Menurutnya, transformasi digital tidak sekadar menghadirkan teknologi dalam kelas, melainkan bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan secara bermakna dalam proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. “Digitalisasi pembelajaran harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang fleksibel, interaktif, dan berorientasi pada penguatan karakter serta kompetensi abad ke-21,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan pendidikan dalam membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkeadilan. Digitalisasi menurutnya tidak boleh menciptakan kesenjangan baru, melainkan harus menjadi jembatan untuk pemerataan akses pendidikan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia.

 

*Refleksi Kritis dan Komprehensif*

Acara bedah buku berjudul *Digitalisasi Pembelajaran* menghadirkan Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd., yang saat ini menjabat Kepala Program Studi S1 Teknologi Pendidikan FKIP UNS Surakarta hadir sebagai pembedah. Dalam ulasannya, ia mengapresiasi bedah buku *Digitalisasi Pembelajaran* sebagai karya yang tidak hanya membahas aspek teknis penggunaan teknologi, tetapi juga mengkaji secara mendalam dimensi filosofis dan kultural dalam pendidikan,” terang Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd..

Menurut Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd., keunggulan utama buku ini terletak pada keberanian penulis dalam mengintegrasikan berbagai perspektif, mulai dari kebijakan pemerintah, teori pendidikan, hingga perkembangan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality (AR), dan virtual reality (VR). Hal ini menjadikan buku tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan modern yang kompleks dan multidimensional. Namun demikian, ia juga memberikan catatan kritis bahwa tantangan kesenjangan digital masih perlu dibahas lebih mendalam, terutama terkait implementasi di daerah dengan keterbatasan infrastruktur.

“Digitalisasi pembelajaran tidak boleh hanya menjadi wacana di kota besar, tetapi harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, buku *Digitalisasi Pembelajaran* ini memiliki fondasi teori yang kuat dengan mengaitkan berbagai pendekatan, seperti progresivisme, konektivisme, hingga teori kognitif multimedia.

“Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari evolusi paradigma pendidikan yang lebih luas,” terang Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd.

 

*Antusiasme Akademisi Muda*

Diskusi bedah buku *Digitalisasi Pembelajaran* yang dimoderatori Arindra Alfarizi, M.Pd. berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari peserta, baik mahasiswa maupun beberapa dari lembaga lain sebagai audiens. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait implementasi digitalisasi pembelajaran, khususnya dalam konteks integrasi teknologi dengan kebutuhan pembelajaran nyata di lapangan.

Beberapa peserta menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia, terutama guru, dalam menghadapi transformasi digital. Selain itu, muncul pula gagasan bahwa digitalisasi pembelajaran perlu diiringi dengan penguatan literasi digital serta etika penggunaan teknologi agar tidak menimbulkan dampak negatif. Gagasan tersebut disambut baik oleh Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd., dengan mengingatkan kembali tentang perlunya kewaspadaan di dalam Bordersless Era dan Post-truth yang saat ini berkembang, yaitu harus mengedepankan berpikir kritis dan melihat fakta yang sebenarnya.

 

*Kolaborasi untuk Masa Depan Pendidikan*

Kegiatan bedah buku ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog konstruktif antara akademisi, penulis, dan mahasiswa dalam memandang masa depan pendidikan Indonesia. Kolaborasi antara Brams Institute dengan kalangan akademisi diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berakar pada nilai-nilai budaya dan filosofi pendidikan nasional.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh gagasan kritis, kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Keberhasilan kegiatan bedah buku berjudul *Digitalisasi Pembelajaran* yang diselenggarakan BRAMS Institute menunjukkan ada diskursus mengenai digitalisasi pembelajaran yang makin relevan dan menjadi perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia menuju era digital yang inklusif dan berkelanjutan. ( ist/**)