Menenun Asa di Sukarara: Catatan Jurnalis Karanganyar Menyelami Tradisi Manual Perempuan Lombok

 

FOKUSJATENG.COM , BUDAYA — Ketukan ritmis dari bilah-bilah kayu tradisional langsung menyambut kedatangan rombongan jurnalis asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Siang itu, dalam rangkaian kegiatan press tour media, para kuli tinta Bumi Intanpari berkesempatan menyaksikan langsung salah satu denyut nadi kebudayaan Suku Sasak yang masih murni di Desa Wisata Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
Saat kaki melangkah memasuki area menenun, simfoni ketukan kayu yang khas langsung terdengar bersahutan. Bunyi “pletak-pletok” berirama dari alat tenun manual itu bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan penanda bahwa tradisi ratusan tahun di desa ini masih terjaga secara autentik lewat keterampilan tangan para perempuannya.

Di desa ini, menenun bukanlah industri konveksi massal, melainkan sebuah identitas yang dikerjakan helai demi helai benang. Tercatat, ada lebih dari Ratusan perempuan di Desa Sukarara yang menggantungkan hidup sekaligus menjaga warisan leluhur lewat selembar kain yang ditenun secara manual.

Warisan Ratusan Tahun dan Syarat Menikah

Para perempuan di Sukarara masih setia menggunakan alat tenun tradisional non-mesin yang disebut Alat Tenun Gedogan. Seperti yang terlihat saat kunjungan, alat berbahan kayu dan bambu ini ditopang langsung oleh kaki dan pinggang penenunnya, menuntut kekuatan fisik dan fokus yang tinggi. Metode manual ini telah bertahan selama ratusan tahun.

 

Rombongan jurnalis Karanganyar dibuat takjub saat pemandu wisata setempat membeberkan fakta unik terkait adat pernikahan di sana. Di Sukarara, kain songket buatan tangan adalah tiket menuju pelaminan bagi seorang wanita.
Ada aturan adat yang masih dipegang teguh hingga hari ini: seorang perempuan belum boleh menikah jika belum bisa menenun. “Kalau zaman dulu, perempuan harus bisa bikin dua sarung secara manual. Satunya untuk calon suami, satunya lagi untuk mertua. Baru setelah itu mereka boleh menikah,” ujar pemandu wisata di hadapan rombongan jurnalis.

Duduk 8 Jam demi 15 Sentimeter: Menempa Sabar Tanpa Sketsa

Karena dikerjakan sepenuhnya menggunakan tangan dan insting, di atas bantalan tenun Gedogan ini para perempuan Sasak sebenarnya sedang ditempa jiwanya. Menenun secara manual adalah seni mengendalikan ego dan melatih keteguhan hati.
Bayangkan saja, dalam sehari mereka harus duduk bersila selama 8-9 jamdi atas dipan bambu. Dari waktu sepanjang itu, kain yang dihasilkan rata-rata hanya sepanjang 15 sentimeter saja.

Tak heran jika proses pembuatan satu lembar kain katun bisa memakan waktu 1 hingga 2 bulan. Bahkan, untuk kain berbahan sutra yang jauh lebih halus dan rumit, proses manual ini bisa memakan waktu hingga 6 bulan penuh!
Kehebatan lain yang bikin para jurnalis geleng-geleng kepala adalah proses pembuatan motifnya. Saat jemari mereka bergerak lincah menyisipkan benang, mereka sama sekali tidak menggunakan gambar, pola, atau sketsa di atas kertas.
Semua motif indah itu lahir murni dari imajinasi instan (on the spot) yang mengalir langsung dari pikiran ke jemari mereka. Karena ditenun dari arah belakang, jika terjadi sedikit saja kesalahan, sang penenun harus langsung mengoreksinya saat itu juga dengan ketelitian tinggi.

Filosofi ‘Penginang’ dan Kehangatan Teras Sasak

Menyaksikan proses rumit yang sunyi dari mesin namun kaya akan nilai budaya ini terasa semakin syahdu di bawah naungan atap jerami rumah khas Sasak. Di sudut-sudut teras, tampak pula tradisi lokal yang berjalan beriringan, seperti para tetua desa yang sedang menginang—sebuah tradisi mengunyah sirih, pinang, dan kapur.
Bagi masyarakat Sasak, menyuguhkan penginang kepada tamu, termasuk kepada rombongan press tour Karanganyar siang itu, adalah simbol penghormatan tertinggi dan keterbukaan komunikasi. Aroma khas sirih yang getir berpadu dengan kehangatan kopi lombok seolah menggenapi atmosfer magis desa wisata yang jauh dari hiruk-pikuk modernisasi ini.
Kunjungan ini tidak berakhir dengan sesi wawancara saja. Beberapa jurnalis Karanganyar bahkan ditantang untuk mencoba langsung duduk di alat Gedogan. Gelak tawa pun pecah saat para kuli tinta ini merasakan sendiri betapa kaku dan beratnya menahan komponen kayu tenun manual di pinggang mereka, sebuah beban yang sehari-hari dihadapi dengan senyuman oleh perempuan Sukarara. Tak lupa, momen press tour ini diabadikan dengan sesi foto bersama mengenakan pakaian adat tradisional Lombok, kain songket Lambung.
Melalui perjalanan press tour ini, para jurnalis Karanganyar tidak hanya membawa pulang berita. Lebih dari itu, mereka membawa pulang cerita tentang sepotong jiwa, ketabahan berbulan-bulan, dan kehormatan perempuan Lombok yang terus terjaga rapi dalam tiap helai benang songket buatan tangan dari Sukarara. ( bre )