Kubu PB XIV Puruboyo Pastikan Kirab Pusaka Malam 1 Suro Berjalan: Perintah Raja

Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPHA Panembahan Dipokusumo. (Thia/Fokusjateng.com)

Fokusjateng-SURAKARTA-Perayaan Malam 1 Suro Tahun Be 1960 atau bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah 1448 Hijriyah dipastikan akan tetap berjalan meskipun ada potensi dua kirab pusaka yang dilaksanakan dua kubu yang berbeda. Kepastian pelaksanaan kirab pusaka malam 1 Suro pada Selasa malam, 16 Juni 2026 datang dari kubu KGPH Puruboyo atau yang saat ini bernama Sri Susuhunan Paku Buwono Empat Belas (XIV).

Pengageng Parentah Karaton, KGPHA Panembahan Dipokusumo menegaakan seluruh rangkaian tradisi akan berjalan sesuai paugeran atau tata cara keraton dan dhawuh dalem atau perintah raja.

Menurut Gusti Dipo, penyelenggaraan kirab pusaka malam 1 Suro itu merupakan tugas dari Sri Susuhunan Paku Buwono XIV. Ia menyebut upacara tersebut merupakan tradisi yang telah berlangsung lebih dari lima dekade dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional oleh Kementerian Kebudayaan.

“Upacara itu akan selalu dilaksanakan sebagai tata cara, adat, dan tradisi yang memberikan makna keselamatan serta pemahaman simbolik bagi masyarakat,” ujar Gusti Dipo saat ditemui wartawan di Keraton Surakarta seusai rapat persiapan Kirab Pusaka 1 Suro 2026, Rabu, 10 Juni 2026.

Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta dari kubu KGPH Puruboyo, GKR Panembahan Timoer Rumbay, saat ditemui sehari sebelumnya juga menegaskan seluruh kegiatan yang digelar di lingkungan keraton didasarkan pada dhawuh dalem atau perintah raja.

Ia menyatakan pihaknya terbuka apabila kelompok lain ingin mengikuti kirab dan prosesi Malam 1 Suro secara bersama-sama sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan keraton.

“Kalau mereka ingin bersama-sama dengan kita sesuai dhawuh dalem PB XIV, monggo. Kami sambut, tidak masalah. Itu akan menjadi momen yang baik untuk bisa berjalan bersama-sama,” kata Gusti Timoer.

Gusti Timoer menuturkan untuk lokasi, rute, pusaka, hingga Kebo Bule Kyai Slamet yang digunakan dalam prosesi tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, ia berharap seluruh pihak dapat menghormati jalannya upacara adat tersebut.

“Lokasinya sama, rutenya sama, kebo bulenya sama. Tempat keluarnya pusaka juga sama. Ketika bertemu di situ, saya berharap tidak akan ada gesekan karena kami hanya menjalankan paugeran dan dhawuh raja,” katanya.

Gusti Timoer juga membantah kabar yang menyebut pelaksanaan Malam 1 Suro sempat ditetapkan pada 15 Suro lalu diubah menjadi 16 Suro. Menurutnya, penentuan tanggal dilakukan melalui perhitungan dan pembahasan bersama berbagai pihak, termasuk Mangkunegaran dan unsur Catur Sagotra.

“Kalau ada informasi berbeda sebelumnya, kemungkinan karena perhitungan dan rapat belum selesai. Hal seperti itu biasa terjadi dalam penentuan kalender Jawa,” ujarnya.

Mengenai koordinasi dengan aparat keamanan, pihak keraton memastikan telah menyampaikan rencana pelaksanaan kirab kepada unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam rapat yang digelar pekan lalu. Koordinasi lanjutan juga akan kembali dilakukan menjelang pelaksanaan acara.

Adapun kirab pusaka Keraton Surakarta tetap menggunakan rute yang selama ini menjadi jalur tradisional. Prosesi akan dimulai dari Keraton Surakarta menuju Jalan Supit Urang, Jalan Pakoe Boewono, melewati Gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kembali ke Jalan Pakoe Boewono, dan berakhir di kompleks Keraton Surakarta. (*Thia/**)