FokusJateng.com – BOYOLALI- Seorang jemaah haji asal Kabupaten Semarang Mustofa Ismail (66) memilih pulang jalan kaki dari Asrama Haji Donohudan (AHD), Kecamatan Ngemplak, Boyolali hingga rumahnya di Desa Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.
Jemaah haji kelompok terbang (kloter) 23 tersebut, begitu tiba di AHD untuk pelepasan jemaah haji kembali ke daerah asal pada Kamis 11 Juni 2026 pagi, Mustofa seakan sudah tak sabar untuk segera pulang jalan kaki.
Sejumlah petugas sudah membujuknya agar ikut pulang naik bus bersama rombongan. Namun, dia kukuh dengan pendiriannya. Menurutnya bukan karena tak ada yang menjemput. Mustofa nekat berjalan kaki sebagai bagian dari nazar yang telah lama diucapkan sebelum berangkat haji.
“Ini nazar saya.Saya ingin menambah ibadah,” kata Mustofa.
Akhirnya petugas terpaksa mengizinkannya pulang jalan kaki. Dengan syarat, jalan kaki tidak dilakukan langsung dari AHD. Dia diminta keluar dulu dengan mobil keluarga yang menjemputnya.
Setelah 1 km meninggalkan AHD, Mustofa pun langsung turun dari mobil untuk mulai jalan kaki pulang. Dia mengenakan caping untuk menghindarkan diri dari sengatan panas matahari. Dia ditemani adik perempuannya, Zuriyah. Sebelumnya, petugas daerah juga sudah menyerahkan dirinya kepada keluarga dengan bukti tertulis.
Menurut Mustofa selain sudah nadzar sejak sebelum berangkat haji. Jalan kaki itu merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan karena dirinya bisa menjalankan rangkaian ibadah haji dengan lancar.
Sekaligus diberikan kesehatan sehingga bisa pulang ke tanah air dengan selamat. Dia mengambil rute sejauh 34 km dari AHD melintasi Kecamatan Sambi lalu ke Simo, Klego hingga Karanggede yang masuk wilayah Boyolali. Dari Karanggede lalu ke arah rumahnya di Suruh, Semarang.
“Saya jalan tidak ngoyo, kalau lelah ya istirahat. Jalan sembari berdzikir dan sholatawan,” katanya.
Menurutnya, jalan kaki sudah biasa dilakukan. Saat berangkat haji, dia juga memilih jalan kaki dari rumah hingga ke tempat penjemputan di gedung IPHI Suruh. Bahkan, kakek sejumlah cucu inipun masih juga kerja keras menggarap sawah dan memelihara enam ekor sapi.
“Setelah 14 tahun menunggu sejak saya mendaftar haji akhirnya terwujud, Saya merasa bersyukur karena masih diberikan kesehatan,” pungkasnya. ( yull/**)
