FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Angin dingin berhembus kencang di ketinggian 2.194 mdpl. Di ufuk timur, Gunung Lawu berdiri gagah berselimut kabut. Namun, bagi masyarakat sekitar dan para pendaki yang jeli, daya tarik Bukit Mongkrang bukan sekadar hamparan ilalang yang instagramable. Ada sebuah narasi tua yang tertanam di tanahnya: Misteri Tapak Nogo.
Sisi Terang: Karpet Hijau yang Menghipnotis
Bagi wisatawan umum, Bukit Mongkrang adalah “pelarian” sempurna. Jalur pendakian yang relatif ramah bagi pemula menjadikannya primadona baru di Karanganyar. Dari puncaknya, sejauh mata memandang, pengunjung disuguhi pemandangan:
-
Lembah hijau yang menyerupai bukit Teletubbies.
-
Pemandangan kawah Candradimuka dari kejauhan.
-
Lautan awan yang seringkali menyapa di pagi buta.
Namun, di balik keindahan itu, terselip sebuah cekungan memanjang yang oleh warga lokal dipercaya sebagai bekas lintasan tubuh naga raksasa—inilah yang disebut Tapak Nogo.
Sisi Gelap: Ritual di Balik Terkabulnya Doa
Di balik keindahan alamnya, Bukit Mongkrang menyimpan sisi sosiokultural yang kental dengan nuansa mistis. Bukan pemandangan aneh bagi warga setempat jika menemukan kepala kambing yang tertanam atau diletakkan di titik-titik tertentu bukit ini.
“Itu bukan sekadar buang bangkai. Itu adalah simbol syukur atau ‘bayar utang’ janji,” ujar salah satu warga senior di desa penyangga.
Fenomena ini berkaitan dengan tradisi Ngalap Berkah atau mencari restu alam. Berikut adalah fakta di balik misteri tersebut:
-
Orang Punya Hajat: Banyak pengunjung datang bukan untuk berfoto, melainkan membawa niat khusus—mulai dari kesuksesan bisnis, kenaikan jabatan, hingga urusan jodoh.
-
Nazar (Janji): Mereka yang berdoa di sini biasanya mengucapkan janji (nazar). Jika keinginan mereka terkabul, mereka wajib kembali untuk melaksanakan ritual.
-
Pembuangan Kepala Kambing: Sebagai bentuk syukur atas hajat yang terkabul, pelaku ritual akan menyembelih kambing. Dagingnya biasanya dibagikan, namun bagian kepala ditanam atau diletakkan di area Bukit Mongkrang sebagai “persembahan” kepada penjaga gaib bukit tersebut.
Antara Tradisi dan Kelestarian Alam
Fenomena ini menciptakan kontras yang unik. Di satu sisi, ada pendaki milenial dengan jaket warna-warni dan kamera mirrorless, di sisi lain ada peziarah yang datang membawa sesaji dengan khidmat.
Meski bagi sebagian orang terdengar mengerikan, bagi masyarakat lokal, ini adalah bentuk penghormatan terhadap keseimbangan alam. Bukit Mongkrang bukan sekadar onggokan tanah dan batu; ia adalah entitas yang hidup, yang mendengar doa, dan yang menyimpan jejak sang naga dalam diamnya.
Catatan bagi Wisatawan:
Jika Anda berkunjung dan menemukan benda-benda ritual, tetaplah bersikap sopan. Di Bukit Mongkrang, kita berbagi ruang antara keindahan yang terlihat dan misteri yang dirasakan.
“Bukit Mongkrang mengajarkan kita bahwa di atas gunung, manusia tidak hanya mendaki tanah, tapi juga mendaki keyakinannya sendiri.”
( bre suroto )
