FOKUSJATENG.COM, SOLO – Di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks, puluhan eksponen pejuang demokrasi dan aktivis lintas generasi Kota Solo menggelar pertemuan strategis bertajuk “Halal Bihalal Aktivis Solo Lintas Generasi: Merajut Simpul, Mempererat Perjuangan, Menjaga Nyala Api Reformasi”. Acara yang berlangsung hangat di Cafedangan, Manahan, pada Sabtu (18/4/2026) ini menjadi ajang konsolidasi moral untuk menyikapi kondisi demokrasi saat ini.
Prijo Wasono, aktivis yang dikenal konsen terhadap isu civil society sekaligus salah satu penggagas acara, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar reuni atau ajang bernostalgia bagi para aktivis 98 dan mahasiswa kontemporer. Menurutnya, momentum ini sangat krusial untuk melakukan “recharge” semangat di tengah situasi politik yang dirasa kian pragmatis.
“Kita melihat dinamika di nasional begitu dinamis, kadang mengkhawatirkan bagi masa depan demokrasi. Namun di sini, di Solo, kita ingin menunjukkan bahwa api reformasi itu tidak boleh padam,” ujar Prijo Wasono di sela-sela acara.
Ia menambahkan bahwa kegaduhan di tingkat elit tidak boleh membuat gerakan akar rumput kehilangan arah. Baginya, menjaga garis perjuangan kerakyatan adalah kerja jangka panjang yang harus dilakukan secara konsisten, bukan sekadar gerakan musiman.
Gagasan Hari Perjuangan Demokrasi 21 Mei
Menutup rangkaian acara yang penuh dengan orasi tajam dan lagu perjuangan, Prijo Wasono melayangkan usulan monumental kepada seluruh elemen yang hadir. Ia mengajak para aktivis untuk tidak membiarkan momentum Reformasi Mei berlalu begitu saja sebagai lembaran kalender.
-
Usulan Utama: Menggagas peringatan “Hari Perjuangan Demokrasi” setiap tanggal 21 Mei di Solo.
-
Tujuan: Menjadi pengingat bahwa demokrasi adalah kerja kolaboratif yang tak pernah usai dan ditebus dengan harga yang mahal.
-
Harapan: Peringatan ini diharapkan menjadi “alarm” bagi seluruh elemen bangsa—rakyat, pemuda, dan aktivis—agar demokrasi tidak kembali jatuh ke titik nadir.
Menjaga Nalar Kritis dan Regenerasi
Senada dengan Prijo, aktivis Catur Budi Santosa juga menyoroti pentingnya transfer pengalaman antara senior dan junior. Forum ini menjadi wadah di mana tokoh pergerakan medio 90-an bersatu dengan aktivis mahasiswa masa kini untuk memastikan nalar kritis terhadap kekuasaan tetap terjaga.
“Lewat forum seperti ini, yang tua berbagi pengalaman, yang muda membawa energi baru. Kita ingin memastikan aktivis Solo tetap satu barisan,” tegas Catur.
Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai tokoh lintas sektoral, mulai dari tokoh agama Tresno Subagyo, perwakilan kaum miskin kota Bagong Mahendra, hingga budayawan Ki Jlitheng Suparman. Meski dibalut dalam suasana Idulfitri, pesan yang dibawa sangat terang: aktivis Solo tetap terjaga dan siap menjadi pengawal demokrasi. ( rls/ bre )
