Tekan Angka Stunting, Puskesmas Sambirejo Sragen Galakkan Program “Si PERI Benahi Gizi”

Program penurunan angka stunting tengah digalakkan oleh Puskesmas Sambirejo, Sragen. (/Fokusjateng.com)

FOKUSJATENG.COM-SRAGEN-Puskesmas Sambirejo, Kabupaten Sragen, menjalankan instruksi pemerintah pusat terkait penurunan dan pencegakan angka stunting bagi balita. Yakni dengan menggalakkan program inovasi “Si PERI Benahi Gizi”.

Terobosan baru yang digagas Puskesmas Sambirejo ini berhasil menurunkan angka stunting di Kecamatan Sambirejo secara signifikan. Data menunjukkan prevalensi stunting turun dari 16,5 persen pada tahun 2024 menjadi 12,1 persen pada Desember 2025.

Konsolidasi posyandu yang dilakukan Puskesmas Sambirejo Sragen untuk menurunan angka stunting

Si PERI Benahi Gizi memiliki kepanjangan dari sejumlah kegiatan untuk menurunkan angka stunting. Yaitu, Siap Perangi Stunting dengan cara Berikan tablet tambah darah pada bumil & remaja putri, Edukasi gizi keluarga, Nutrisi ibu hamil & balita, Akses air bersih, Hidup dimulai dari diri sendiri, Intervensi gizi pada ibu hamil KEK, Germas, Intervensi makan pada balita gizi kurang, Zink diberikan pada balita, dan Ingat fokus 1000 HPK melalui pendekatan keluarga.

“Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada perkembangan fisik maupun kemampuan kognitif anak,” ungkap Kepala Puskesmas Sambirejo Dr. Yeni Rahmawati, Kamis 16 April 2026.

Pencegahan stunting menyasar anak sekolah.

Sebelumnya, angka stunting di Kecamatan Sambirejo sempat meningkat dari 278 balita pada tahun 2023 atau 15,2 persen menjadi 294 balita pada tahun 2024 atau 16,5 persen dari total balita yang ada. Selain itu, kasus weight faltering juga mengalami peningkatan dari 501 balita pada tahun 2023 menjadi 553 balita pada tahun 2024.

Dijelaskan, menjelaskan bahwa program “Si PERI Benahi Gizi” difokuskan pada upaya deteksi dini balita dengan masalah gizi serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Program ini tidak hanya menitikberatkan pada intervensi gizi, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat, lintas sektor, dan lintas program agar penanganan stunting dapat dilakukan secara lebih komprehensif,” ujar dia.

Ia menambahkan bahwa edukasi mengenai pola asuh, konsumsi gizi seimbang, serta perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam program tersebut. “Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta mempercepat penurunan angka stunting di wilayah Sambirejo,” tambah Dokter Yeni.

Ke depan, sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, serta masyarakat diharapkan terus diperkuat guna mendukung target nasional penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (hr)