El Nino Mengganas, 34 Desa di Sragen Terancam Krisis Air Bersih

Fokus Jateng – SRAGEN-Musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen memprediksi krisis air bersih akan meluas hingga sembilan kecamatan dan 34 desa saat puncak kemarau pada Agustus 2026. Penyaluran bantuan air bersih pun mulai digencarkan ke wilayah terdampak.

Salah satu wilayah yang kini mengalami kesulitan air bersih adalah Desa Poleng, Kecamatan Gesi. Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga kebutuhan air sehari-hari hanya dapat dipenuhi melalui bantuan air bersih dari pemerintah.

Setiap tiga hari sekali, BPBD Sragen mengirim sedikitnya tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga. Selain Desa Poleng, bantuan juga disalurkan ke Desa Galeh, Kecamatan Tangen.

Hingga kini, sebanyak 346 kepala keluarga atau sekitar 756 jiwa di dua desa tersebut telah menerima bantuan. Sejak distribusi dimulai pada 3 Juli 2026, BPBD telah menyalurkan sekitar 60 ribu liter air bersih yang bersumber dari APBD Kabupaten Sragen.

Kepala Pelaksana BPBD Sragen, Triyono Putro, mengatakan pemetaan daerah rawan kekeringan telah dilakukan sejak awal Juni. Hasilnya, terdapat sembilan kecamatan, 34 desa, dan 135 dukuh yang diperkirakan mengalami kesulitan air bersih selama musim kemarau.

“Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Karena itu kami sudah memetakan wilayah rawan dan menyiapkan distribusi air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” kata Triyono Putro.Senin 20 Juli 2026.

Sembilan kecamatan yang dipetakan rawan kekeringan meliputi Sumberlawang, Miri, Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar, Masaran, dan Tanon.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Poleng, Yatno, mengaku bantuan air bersih sangat membantu masyarakat. Menurutnya, sumur-sumur warga sudah tidak lagi mengeluarkan air sehingga pasokan dari BPBD menjadi satu-satunya sumber air bersih.

“Kalau tidak ada bantuan air bersih, kami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumur sudah kering,” ujar Yatno.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau yang dimulai pada Juli diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. BPBD Sragen memastikan penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan selama masih ada wilayah yang membutuhkan. (**/ANur)