Hendak Buka Jalan Untuk Lahan, Warga Nepen Boyolali Malah Temukan Sebuah Benda Purbakala

perangkat Desa Nepen, Utama Adi Nugraha menunjukkan temuan bagian lapik bawah candi di area lahan warga setempat (Dok/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-BOYOLALI,-Sebuah benda purbakala diduga bagian lapik bawah candi ditemukan oleh Warga Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.

Lapik bawah candi itu ditemukan saat pemilik lahan membersihkan area pepohonan bambu untuk dijadikan jalan.

“Kemungkinan salah satu pemilik lahan itu membersihkan di area untuk dijadikan jalan. Sebelumnya kan sini ada banyak pepohonan bambu,” kata perangkat Desa Nepen, Utama Adi Nugraha, Minggu 19 April 2026.

Batu candi itu ditemukan dalam posisi terbalik dengan diameter sekitar 1,2 meter. Di lokasi yang sama sebenarnya terdapat dua prasasti. Satu prasasti sudah ditemukan lebih dulu, dan yang terbaru berukuran lebih besar dengan diameter kurang lebih 120 cm.

“Ya kalau di lokasi lahan ini ada dua, tadi kan diketahui adanya dua stupa yang ada. Yang satu sudah yang lama, akhirnya ada penemuan yang baru ini,” jelasnya.

Pemdes Nepen berharap Pemkab Boyolali membantu penanganan temuan cagar budaya di Nepen. Desa Nepen memiliki potensi desa wisata dan sejumlah temuan cagar budaya lain yang tersebar.

Menurut, Tim Ahli Pendaftaran Cagar Budaya Boyolali, Farid Burhanudin, pihaknya langsung meninjau lokasi.  Setelah mendapat laporan dari Pemdes Nepen. Pihaknya juga mengapresiasi kepada warga yang telah melaporkan terkait ditemukannya benda benda bersejarah tersebut.

“Jadi ditemukan di sini berwujud prasada buddhis, lapik bawah konsonan candi, satu kesatuan dari stupa itu sendiri, peninggalan terkait dengan agama Buddha,” kata Farid.

Nantinya, Disdikbud akan berkoordinasi dengan Pemdes dan melapor ke BPK Wilayah X untuk langkah penanganan.

Opsi pemindahan ke museum juga masih dikaji. Namun jika Pemdes dan masyarakat mampu mengelola, temuan bisa disusun menjadi sarana edukasi atau museum desa.

“Tapi bila mana kalau memang dari masyarakat ataupun dari Pemdes itu sendiri bisa menangani atau bisa memproyeksikan menjadi sebuah museum desa, kita akan kumpulkan dengan sebuah tatanan atau susunan bagaimana bisa menjadi sebuah alat sarana edukasi atas masyarakat itu sendiri, agar sejarah atas Desa Nepen itu juga tidak hilang dari daerahnya itu sendiri,” jelasnya.

Farid memperkirakan prasasti berasal dari sekitar abad ke-15 hingga 16 Masehi, namun masih perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan periodisasinya.

Temuan ini memperkuat dugaan adanya kompleks percandian Buddha di wilayah Nepen. Sekitar 500 meter di sebelah barat lokasi, sebelumnya juga ditemukan stupa candi. ( yull/***)