FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Alunan Suluk Pangkur Gedhong Kuning yang magis memecah keheningan Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Karanganyar pada Sabtu malam, 7 Maret 2026. Nada-nada spiritual itu bukan sekadar pembuka, melainkan sebuah “pintu” bagi puluhan pecinta budaya yang hadir dalam seminar bertajuk “Kembali ke Jatidiri Jawa dengan Menggali Jejak Leluhur”.
Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Surya Candra Kartika ini menghadirkan sosok peneliti sekaligus penggali budaya Jawa, Bopo Sigit Wibowo, sebagai narasumber utama. Di hadapan para peserta, Bopo Sigit mengupas tuntas keterkaitan sejarah, mulai dari era raja-raja besar seperti Prabu Brawijaya V hingga situs-situs suci di lereng Gunung Lawu.
Memayu Hayuning Bawana: Landasan Spiritual Masyarakat Jawa
Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yayasan Surya Candra Kartika, Tony Hatmoko, menegaskan bahwa seminar ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Baginya, memahami masa lalu adalah cara terbaik bagi masyarakat Jawa saat ini untuk menjalankan peran strategis mereka: Memayu Hayuning Bawana.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai ritual tradisi sebagai warisan luhur. Lebih dari itu, ini adalah bentuk nyata masyarakat Jawa dalam menjalankan amanah Memayu Hayuning Bawana—memperindah keindahan dunia dengan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Tony Hatmoko.
Konsep Memayu Hayuning Bawana menitikberatkan pada tanggung jawab moral setiap individu untuk menciptakan kedamaian. Dalam konteks budaya Jawa, hal ini diwujudkan melalui pelestarian tradisi yang sarat akan makna spiritual, sosial, dan estetika.
Gunung Lawu dan Etika Pelestarian
Dalam diskusi tersebut, Bopo Sigit Wibowo menyoroti pentingnya Gunung Lawu yang secara historis dianggap sebagai tempat suci (tempat para leluhur berpulang atau mrabuk). Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap alam.
“Sejarah itu harus dihidupi, bukan sekadar dibaca,” tegas Bopo Sigit. Ia mengajak generasi muda untuk aktif dalam organisasi budaya dan diskusi seperti ini agar identitas Jawa tidak hilang ditelan zaman. Beliau juga menambahkan bahwa menjaga situs sejarah seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, hingga Gunung Lawu adalah bagian dari cara kita menghormati ‘energi’ yang ditinggalkan para leluhur.
Membangun Peradaban dari Kesadaran Diri
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh pemahaman yang utuh mengenai perjalanan peradaban sejarah Jawa. Seminar ini menjadi sarana belajar sekaligus pembuka wawasan spiritual di tengah kehidupan masyarakat modern.
Dengan semangat kebersamaan, para peserta diajak untuk tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pelaku aktif dalam menjaga harmoni. Karena pada akhirnya, menjaga budaya Jawa adalah menjaga akar kemanusiaan kita sendiri demi keberlangsungan bumi yang lebih indah dan damai. ( bre )
