Gema Gamelan Terhenti di SDN 1 Girilayu Matesih Karanganyar  Usai Atap Bangunan Ambruk

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Euforia peringatan Hari Pendidikan Nasional yang baru saja usai pekan lalu menyisakan potret buram di SDN 1 Girilayu, Kecamatan Matesih. Pada Selasa pagi (5/5) sekitar pukul 07.15 WIB, saat matahari baru saja menyapa Bumi Intanpari, suara gemuruh runtuhan material menggantikan riuh tawa siswa. Bangunan yang selama ini menjadi saksi bisu kreativitas siswa itu kini rata dengan tanah.

Beruntung, firasat kuat pihak sekolah telah lebih dulu menyelamatkan nyawa para siswa. Gedung tersebut sudah dikosongkan sesaat sebelum struktur atapnya menyerah pada usia.

Kronologi dan Detik-Detik Kejadian

Tanda-tanda alam sebenarnya sudah memberikan peringatan. Retakan besar pada struktur atap kian hari kian menganga, membuat pihak sekolah mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi seluruh aktivitas dari ruangan tersebut.

“Memang sejak awal sudah mulai terlihat retak-retak di bagian atapnya. Kemudian hari ini akhirnya terjadi (ambruk) itu,” ujar Kepala SDN 1 Girilayu, Warsito, saat ditemui di lokasi kejadian.

Hilangnya Ruang Kreativitas: Karawitan Terhenti

Bagi siswa SDN 1 Girilayu, gedung ini bukan sekadar susunan bata dan semen. Ruangan tersebut adalah pusat kegiatan ekstrakurikuler karawitan, tempat mereka melestarikan budaya Jawa.

Pasca-ambruknya gedung, denting gamelan dipastikan akan membisu untuk waktu yang belum ditentukan. Pihak sekolah mengaku terpaksa menghentikan total kegiatan seni tersebut karena keterbatasan ruang pengganti yang memadai.

Puluhan Tahun Tanpa Sentuhan Perbaikan

Ironisnya, bangunan ini diketahui sudah berdiri sangat lama tanpa pernah mencicipi program rehabilitasi (rehab). Material yang lapuk dimakan usia menjadi musuh utama yang akhirnya merobohkan pertahanan gedung tersebut.

  • Status Bangunan: Rusak total (ambruk).

  • Penyebab: Material lapuk, belum pernah direhab sejak berdiri.

  • Dampak: Penghentian total kegiatan ekstrakurikuler karawitan.

“Ini sudah lama sekali. Memang belum ada rehab sama sekali sampai sekarang,” tegas Warsito dengan nada getir.

Langkah Selanjutnya

Pihak sekolah bergerak cepat dengan melayangkan laporan resmi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar. Saat ini, area reruntuhan telah dipasangi pembatas guna mencegah siswa mendekat, mengingat adanya risiko runtuhan susulan yang masih mengintai.

Kini, para siswa dan guru hanya bisa berharap agar puing-puing tersebut segera dibersihkan dan pembangunan kembali bisa dilakukan. Mereka rindu melihat bangunan itu berdiri lagi—bukan hanya sebagai pelindung dari panas dan hujan, tapi sebagai rumah bagi talenta seni mereka. ( bre Suroto / gdr)