FOKUS JATENG-BOYOLALI-Musim kemarau sudah mulai terasa di tengah masyarakat. krisis air bersih pun mengintai sejumlah wilayah di Boyolali utara.
Camat Kemusu Supana mengakui sebagian wilayah Kecamatan Kemusu rawan air bersih setiap puncak kemarau. Saat ini, warga belum begitu direpotkan dengan kekeringan atau rawan air bersih. Biasanya, kondisi ini mulai terjadi pada bulan Agustus dimana mata air dan sumur milik warga sudah kering.
“Warga mengandalkan bantuan air baik dari Pemkab Boyolali maupun bantuan swasta. Bagi yang mampu, bisa membeli air bersih sendiri,” terangnya Sabtu 7 Juli 2018.
Adapun desa yang rawan kekeringan antara lain, Desa Kedungrejo. Di desa tersebut, belum ada mata air yang bisa mencukupi kebutuhan warga. Sudah pernah diusulkan pembuatan embung, namun terkendala penyediaan lahan. “Kawasan desa relokasi kawasan genangan Waduk kedungombo ini tidak memiliki tanah kas yang memadai,” papar dia.
Kekeringan juga biasa menimpa sejumlah dukuh di Desa Kendel dan Desa Kedungmulyo. Di kawasan tersebut, jaringan air bersih Pamsimas masih terbatas dan belum bisa menjangkau semua warga.
Persoalan utama yang menulitkan warga adalah minimnya sumber air. Sehingga warga juga sulit untuk membuat sumur. Seringkali, meskipun sudah menggali sumur sangat dalam, tetap tidak keluar airnya.
Padahal, wilayah Kecamatan Kemusu dikelilingi Waduk Kedungombo yang airnya melimpah. Namun, faktanya, warga senantiasa kekurangan air bersih saat puncak musim kemarau. Warga tak bisa memanfaatkan air waduk karena kotor dan tak memenuhi syarat kesehatan.
Selama ini, warga memanfaatkan air hujan atau mengambil air dari mata air yang debitnya sangat kecil. Ada pula yang menggunakan air sungai atau waduk dengan cara diendapkan lebih dahulu. Jika kemarau dan mata air mengering, warga terpaksa menggali di dasar sungai yang mengering.
