Pojok Kolom : Gegap Gempita Koperasi Jawadwipa: Membangun Pondasi atau Mengejar Bayangan?

Teras rumah kayu. Soroyudo sedang menyeruput kopi hitam yang masih mengepul, sementara Joyo Engkel datang dengan napas terengah-engah, menenteng map tebal berwarna cokelat.

Joyo Engkel:

(Melempar map ke meja hingga bunyi brak!)

“Soro! Tanda tangan cepat. Ini berkas anggota untuk Unit Simpan Pinjam Jawadwipa. Harus beres sebelum matahari terbenam!”

Soroyudo:

(Tersedak kopi, mengelap bibir dengan punggung tangan)

“Walah, Engkel! Kamu ini datang-datang seperti dikejar ndas pusing. Duduk dulu, napas dulu. Ini Koperasi Jawadwipa mau bangun ekonomi rakyat atau mau ikut lomba lari maraton?”

Joyo Engkel:

“Nggak ada waktu buat duduk manis, Ro. Instruksinya jelas: Koperasi ini harus jadi tulang punggung Bumi Perdikan. Kita ini tanah subur, loh jinawi, tapi kalau nggak dipagari koperasi model ‘Gulo Kelopo ‘ begini, modal asing yang bakal panen di sini. Kita harus gerak cepat!”

Soroyudo:

(Membuka map dengan santai, membolak-balik kertas)

“Ya saya paham tujuannya mulia. Penguatan pondasi, biar petani punya taji. Tapi mbok ya jangan grasak-grusuk. Kemarin sosialisasi cuma lima menit, sekarang sudah suruh bergerak cepat tancap gas . Apa nggak takut pondasinya malah retak kalau semennya belum kering sudah dipaksa bangun lantai dua?”

Joyo Engkel:

“Justru itu! Kita ini balapan sama waktu. Kalau kita pelan-pelan, momentumnya hilang. Jawadwipa ini dirancang buat memotong jalur tengkulak. Makanya, skemanya dibuat masif, cepat, dan langsung menyentuh akar rumput. Ibaratnya, kita ini lagi bikin benteng sambil perang!”

Soroyudo:

(Terkekeh sambil menggeleng)

“Benteng kalau dibangun sambil lari itu biasanya batunya nggak presisi, Ngkel. Saya dukung Jawadwipa, sumpah. Siapa sih yang nggak mau Bumi Perdikan ini mandiri? Tapi jangan sampai karena ‘tergesa-gesa’, malah administrasi berantakan. Nanti niatnya mensejahterakan, malah berakhir di meja hijau gara-gara salah hitung.”

Joyo Engkel:

“Hush! Mulutmu itu. Makanya saya ke sini, kamu kan yang paling teliti. Ayo bantu verifikasi cepat. Kita butuh pondasi yang kuat buat menopang hasil bumi kita. Kalau Jawadwipa jalan, nggak ada lagi itu cerita petani nggak bisa beli pupuk.”

Soroyodo:

(Mendesah, mengambil pulpen di kantong bajunya)

“Ya sudah, sini. Tapi ingat, Ngkel. Koperasi itu dari anggota, oleh anggota. Jangan sampai karena saking cepatnya, anggotanya malah nggak paham mereka punya hak apa. Semangat ‘Gulo kelopo” nya jangan cuma di spanduk, tapi di transparansi juga.”

Joyo Engkel:

(Tersenyum lebar, menepuk bahu Soroyodo)

“Nah, gitu dong! Wis, cepat tanda tangan. Setelah ini saya harus ke Dusun sebelah. Katanya mereka sudah nungguin berkas ini buat pencairan bibit unggul.”

Soroyudo:

“Iya, iya… Dasar Engkel. Koperasi Jawadwipa: Maju terus, tapi jangan sampai nabrak tembok!”

Koperasi Jawadwipa hadir sebagai oase bagi masyarakat Bumi Perdikan. Meski langkahnya terkesan kebat-kliwat (terburu-buru), semangatnya jelas: mengunci kedaulatan ekonomi di atas tanah sendiri. Tantangan terbesarnya kini bukan lagi soal modal, melainkan ketelitian dalam mengelola antusiasme yang meluap-luap. ( bre )