FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Kabut tipis menyapu sela-sela pepohonan pinus Lembah Sekipan saat mentari pagi merayap pelan di lereng Gunung Lawu. Di bawah hawa dingin membeku khas Tawangmangu pada Senin (27/7/2026), sekelompok pemuda penikmat kopi melangkah menyusuri tanah basah perkebunan. Mereka tidak sekadar datang untuk minum kopi, melainkan hendak menimba ilmu dalam sebuah “kampus terbuka”—ruang belajar hulu-hilir kopi yang memadukan kekayaan alam, kolaborasi akademis, dan kearifan lokal Karanganyar.
Merawat Harapan dari Tumpang Sari 15.000 Pohon Kopi
Perjalanan ini berawal dari sebuah keresahan yang bersemi sejak tahun 2019. Kala itu, para petani yang tergabung dalam Komunitas Kopi Kita bersama LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) wilayah Sekipan di bawah naungan Perhutani, menanam sekitar 12.000 bibit kopi endemik. Tanaman kopi itu disulam telaten di antara keteduhan tegakan pohon pinus dengan sistem tumpang sari.
Kini, hamparan tersebut telah berkembang pesat hingga mencapai sekitar 15.000 pohon kopi yang siap dipanen. Buah merah ceri kopi menyala di balik daun hijau rindang, menandakan bahwa tanah lereng Lawu menyimpan potensi luar biasa. Namun, melimpahnya hasil panen melahirkan pertanyaan mendasar bagi sang penggerak petani kopi Karanganyar, Sadiyono.
“Keresahan kami sebenarnya sederhana setelah biji kopi ini panen: setelah dipetik, apa yang musti kita lakukan untuk menuju hilirnya? Bagaimana agar jerih payah petani tidak berhenti hanya sebagai gabah kering, tapi punya nilai jual tinggi?” ujar Sadiyono menceritakan awal mula gerakan ini.
Geliat “Kampus Kopi”: Sinergi Akademisi dan Kreativitas Gen Z
Menjawab keresahan para petani, tergelarlah helatan Festival Kopi Tawangmangu #2 (Festival Kopi Lawu #2). Acara ini menjelma menjadi laboratorium hidup atau “kampus kopi”, di mana civitas akademika bertatap muka langsung dengan realitas pertanian.
Perhutani berkolaborasi erat dengan Tiga Serangkai University (TSU) Solo melalui Prodi Manajemen untuk menyusun riset edukasi dan tata kelola bisnis. Langkah ini diperkuat oleh dukungan tim dari Prodi Sistem Informasi Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam pengembangan agrobisnis serta peran para relawan KKN. Tak ketinggalan, mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta prodi TV dan Desain Grafis turut menggali potensi visual, konten, serta promosi kreatif agar komoditas kopi Lawu mampu bersaing di pasar global.
Ramadhan Isnain, tim kreatif penyelenggara, menegaskan bahwa festival kopi di Tawangmangu ini sengaja dikemas berbeda dengan konsep living & eco-tourism on community base.
“Festival tidak melulu tentang pertunjukan di atas panggung megah. Lewat trip dan workshop kreatif yang melibatkan sudut-sudut destinasi natural, kita menyulam ragam potensi local wisdom di lereng Gunung Lawu. Ini akan membawa warna cerita yang lebih fresh dan berdampak langsung pada penguatan pariwisata Karanganyar,” ungkap Ramadhan.
Menyelami Hulu-Hilir: Dari Petik Ceri hingga Class Cupping
Rangkaian acara diawali dengan eksplorasi kebun. Peserta dari berbagai wilayah Karanganyar dan delegasi komunitas luar kota diajak berjalan menyusuri barisan pohon kopi, memetik buah ceri merah pilihan, mempelajari metode pengeringan, hingga memahami teknik sangrai (roasting/sangre) tradisional maupun modern.
Siang hingga petang hari pada pukul 13.30–17.00 WIB, suasana kehangatan berlanjut di Lawu Break Coffee N Nongki dalam gelaran Cupping Class Lawu Coffee. Didampingi dua ahli kopi (headbar), yaitu Giovanni Wicaksono (Headbar Fork Coffee) dan Tiara Ajeng Aiswaryarai (Headbar Fractal Coffee), para peserta diajak menguji serta mengenali profil rasa (cupping & taste) dari empat komoditas Arabica unggulan Karanganyar:
- Tawangmangu — Membawa sentuhan rasa khas pegunungan dingin Sekipan dengan acidity segar dan keharuman karamel alami.
- Jatiyoso — Kopi dari wilayah lereng selatan dengan karakter cita rasa fruity yang kaya dan body yang mantap.
- Ngargoyoso — Ditanam di sekitar kawasan kebun teh, menyajikan aroma floral yang lembut dan aftertaste bersih.
- Jenawi — Kopi dari ujung utara Karanganyar dengan karakter herbal halus dan keunikan rasa tanah lokal.
Di Bawah Lengkingan Gamelan Pancot: Kopi adalah Harmoni
Bila siang hari dipenuhi dengan wawasan teknis, maka malam harinya menyajikan kehangatan budaya yang menyentuh jiwa. Para peserta diajak tinggal dan berinteraksi langsung (living experience) bersama masyarakat budaya di Dusun Pancot, Kalisoro.
Diiringi embun malam yang kian pekat, peserta merapat bersama warga di rumah-rumah penduduk. Dentang perunggu gamelan mengalun lembut. Sebagian peserta mencoba memegang pemukul saron dan bonang, memainkan ritme gamelan sebagai penyeimbang perjamuan kopi hangat bersama warga sekitar. Di sinilah filosofi utama festival terpancar: “Satu di Antara Aroma & Irama”. Kopi bukan lagi sekadar komoditas dagang, melainkan jembatan kebudayaan dan penyatu rasa.
Penutup: Keberlanjutan Kopi Lawu
Memasuki hari kedua, kegiatan ditutup dengan sesi ruang bincang dan tanya jawab interaktif antara peserta, mahasiswa, dan petani, yang difasilitasi oleh Facard Hotel & Resort. Diskusi hangat ini merumuskan langkah konkret pemasaran serta pengembangan kedai-kedai kopi lokal di Karanganyar.
Dari Sekipan hingga Pancot, dari kebun pinus hingga cangkir cupping, Kampus Kopi di lereng Gunung Lawu telah membuktikan bahwa sinergi antara petani lokal, akademisi perguruan tinggi, dan generasi Gen Z mampu melahirkan narasi baru: bahwa kopi Karanganyar adalah harmoni antara alam, rasa, dan kearifan budaya. ( rls/bre )
