Warisan Mbok Mase yang Kini Mendunia: Galeri Batik Girilayu Karanganyar Resmi Diresmikan, Bidik Pasar Milenial hingga Internasional

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Desa Girilayu di Kecamatan Matesih, Karanganyar, tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang seni batik di Tanah Jawa. Jauh sebelum era modernisasi, desa di kaki Gunung Lawu ini merupakan benteng pertahanan para pembatik perempuan yang memiliki ikatan historis erat dengan kawasan Laweyan, Solo.

Pada masa pra-revolusi, terjadi relasi kerja patron-klien yang khas antara pembatik Girilayu dengan para juragan batik Laweyan—yang tersohor dengan sebutan Mbok Mase. Para Mbok Mase, sosok-sosok saudagar perempuan tangguh penguasa ekosistem bisnis batik Laweyan, kerap mengandalkan ketelitian dan kehalusan canting jemari perempuan Girilayu untuk memproduksi kain-kain batik berkualitas mumpuni. Hubungan simbiosis ini menjadikan Girilayu sebagai “dapur estetika” yang menyuplai keindahan batik klasik ke pusat-pusat perdagangan Laweyan.

Kini, jejak emas tradisi tersebut memasuki babak baru. Peresmian Galeri Batik Girilayu pada Sabtu (12/9/2026) di kompleks Astana Giribangun menjadi tonggak penting dorongan industri batik lokal untuk lepas landas menembus pasar nasional hingga internasional.

Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengapresiasi keberlanjutan tradisi batik Girilayu yang terus terjaga berkat regenerasi yang kuat serta dorongan sentuhan modernisasi, baik dari sisi produksi maupun pemasaran.

“Harapan saya, pembatik di Girilayu tidak hanya berkiprah di lingkungan desa, tetapi mulai meluas ke tingkat provinsi, nasional, hingga mendunia,” ungkap Siti Fauziah usai meresmikan Galeri Batik Girilayu.

Regenerasi Gen Z dan Tantangan Modernisasi

Salah satu kekuatan utama Batik Girilayu saat ini terletak pada estafet keahlian yang berjalan mulus. Anak-anak muda dari kalangan Generasi Z (Gen Z)—mulai dari pemuda berusia 18 tahun hingga para sarjana seni—kini turun langsung merancang motif dan melestarikan warisan leluhur mereka.

“Artinya regenerasi itu sudah berjalan. Batik Girilayu ini tidak akan punah, dan itu yang perlu kita lestarikan ke tingkat yang lebih baik lagi,” tegas Siti Fauziah.

Meski demikian, Siti Fauziah mengingatkan pentingnya menyeimbangkan antara pakem tradisional dan variasi desain modern. Menurutnya, pakem klasik harus tetap dipertahankan untuk acara resmi, sedangkan inovasi alat produksi (seperti teknik cap modern) dan variasi warna harian sangat dibutuhkan agar harga produk lebih efisien dan terjangkau masyarakat luas.

Dari sisi kebijakan pusat, Sekretariat Jenderal MPR RI berkomitmen memberikan penguatan regulasi, sementara pemerintah daerah berencana menyalurkan bantuan peralatan pendukung produksi.

Menjaga Roh Batik Tulis, Membidik Pasar Global

Koordinator Paguyuban Batik Girilayu, Nyoto Mulyono, menjelaskan bahwa paguyubannya kini membawahi 12 kelompok dengan sekitar 600 perajin (200-300 di antaranya aktif). Untuk menjawab tantangan zaman, mereka mulai mengembangkan motif turunan modern yang menyasar generasi milenial.

“Segmen yang sedang kami kejar adalah generasi milenial. Karena itu, kami tidak bisa meninggalkan teknologi dan digitalisasi. Kami berencana berkolaborasi untuk belajar sistem batik digital terbaru agar bisa bersaing, tetapi batik tulis tangan asli akan tetap menjadi ikon dan warisan luhur yang kami pertahankan,” jelas Nyoto.

Spektrum Harga & Keunggulan Batik Girilayu:

  • Batik Klasik (Pakem Keraton): Rp700.000 hingga puluhan juta rupiah (pernah menembus Rp23 juta).
  • Batik Motif Turunan (Segmen Muda/Harian): Rp250.000 hingga Rp500.000.

Selain mengembangkan aspek komersial dan mengedukasi siswa sekolah lewat program life skill, Paguyuban Batik Girilayu juga sukses mematenkan motif khas Tridharma, yang terinspirasi dari kekayaan alam dan hasil bumi setempat.

Kini, karya adiluhung yang berakar dari hubungan historis Mbok Mase tersebut tidak hanya dipakai oleh pejabat daerah dan instansi negara, tetapi juga siap dipromosikan dalam ajang rapat Kamar Dagang di Taiwan sebagai langkah nyata merambah pasar global. ( bre )