Fokus Jateng, SURAKARTA—Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 sukses digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 10-12 September 2026. Festival seni pertunjukan tersebut mempertemukan seniman dari dalam dan luar negeri melalui beragam karya yang membawa latar budaya masing-masing.
Memasuki tahun ke-18 penyelenggaraan, SIPA 2026 mengusung tema Kinetic Kinship: Beyond Boundaries. Tema itu merefleksikan keterhubungan yang terus bergerak antarkebudayaan serta relasi yang melampaui batas geografis dan tradisi.
Direktur Utama SIPA, Irawati Kusumorasri mengatakan penyelenggaraan SIPA menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Surakarta sebagai kota budaya. Festival tersebut digelar dengan menggandeng Pura Mangkunegaran dan Pemerintah Kota Surakarta.
“Tepat pada tahun ke-18 perhelatan SIPA ini, kami berkomitmen untuk menjadi festival budaya yang memperkuat status Kota Solo menjadi Kota Budaya,” kata Irawati, 12 September 2026.
Irawati mengatakan penyelenggaraan SIPA 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya pengusaha kuliner Puspo Wardoyo melalui Ayam Bakar Wong Solo dan Kalipepe Land.
“Saya sangat berterima kasih atas dukungan dari Pak Puspo Wardoyo dari Ayam Bakar Wong Solo dan Kalipepe Land. Dukungan ini sangat berarti bagi kami demi semakin lancar dan suksesnya penyelenggaraan SIPA 2026,” katanya.
SIPA 2026 menghadirkan 16 kelompok seniman yang mewakili empat negara dan sembilan daerah di Indonesia. Delegasi mancanegara antara lain Ohinemataroa dari Selandia Baru, Nomadart dan Contemporary Dance Company Jayu dari Korea Selatan, Seed Dance Company dari Taiwan, serta SyuRei by Ryukyu Arts Embassy, Company Danzak, dan KITA! 1010 SEPTET dari Jepang, serta Malaysia.
Dari Indonesia, sejumlah kelompok seni tampil mewakili berbagai daerah. Mereka antara lain Kemantren Langenpraja Mangkunegaran dan Smara Tantra dari Surakarta, Gaung Marawa dan Sanggar Seni TITIAN AKA dari Sumatera Barat, AYI Dance X ARIES BM dari Papua, Gigi Art of Dance dari Jakarta, Komunitas Seni Hitam Putih dari Padang Panjang, Aceh Performing Art ISBI dari Aceh, serta Sanggar Bunga Rosina dari Dumai.
Rangkaian SIPA 2026 dibuka pada Kamis, 10 September 2026. Pertunjukan pembuka diisi kolaborasi Maskot sekaligus Ambassador SIPA 2026, Gondrong Gunarto, bersama Semarak Candrakirana, Ekosdance Company, dan Sanggar Sikambang Manih.
Sejumlah seniman mancanegara juga membawa karya yang secara khusus dipentaskan dalam festival tersebut. Direktur sekaligus koreografer Seed Dance Company asal Taiwan, We-Jen, mengatakan kelompoknya membawakan karya bertajuk Loss Connection Surakarta.
Menurut We-Jen, keikutsertaan dalam SIPA 2026 menjadi penampilan perdana Seed Dance Company di Indonesia. Ia mengapresiasi kesempatan yang diberikan untuk tampil dalam festival seni pertunjukan di Surakarta.
“Ini pertama kalinya kami tampil di Indonesia. Terima kasih kepada Ibu Ira yang telah mengundang kami ke panggung SIPA 2026,” ujar We-Jen.
Selain pertunjukan utama pada malam hari, SIPA 2026 juga menggelar SIPA Mart pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat Bersama Kota Surakarta dan menjadi bagian dari rangkaian festival di luar panggung pertunjukan. (*Thia/***)
