Oleh: Ari septiawan, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta
Literasi menjadi senjata melawan bullying. KKN UNISRI ajak 20 siswa SD N Karangasem 2 menuliskan perasaan dan berani bersuara.
Fokus Jateng, Sragen —Sebuah desa dengan sawah membentang hijau. Di sinilah saya dan tim KKN Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) mengabdi. Namun, di balik ketenangan desa, kami menemukan kegaduhan yang tak terdengar: jeritan anak-anak korban Bullying.
“Rasanya aku ingin sekali berhenti sekolah dengan sikap teman-temanku yang selalu membullyku, tapi aku juga kasihan kepada ayah jika aku tidak sekolah.”
Kalimat itu ditulis oleh seorang siswa kelas 6 SD N Karangasem 2. Tangannya gemetar. Air matanya menetes di atas kertas. Ia dan 19 temannya selama ini memendam luka karena tidak punya ruang aman untuk bersuara. Kemampuan mengekspresikan diri yang terbatas membuat mereka kesulitan mengutarakan perasaan. Padahal, menulis bisa menjadi jembatan bagi mereka untuk melawan perundungan.
Kemudian pada Kamis, 6 Agustus 2026, kami merancang sebuah program sederhana namun bermakna: menulis kreatif bertema anti-bullying. Dengan pendekatan literasi, kami ingin mengubah diam menjadi suara, dan rasa takut menjadi keberanian.
Angka berbicara. Rapor Pendidikan 2025 mencatat baru 65,66% murid SD yang mencapai kompetensi minimum literasi. Data PISA 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 80 negara dengan skor literasi membaca hanya 359.
Di sisi lain, FSGI mencatat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang 2025 dengan 358 korban. Kasus terbanyak terjadi di jenjang SD—30 persen dan 5 korban meninggal semuanya masih berusia SD. KPAI menyebut fenomena ini sebagai “gunung es.”
Dua krisis ini literasi dan bullying saling terkait. Anak yang tidak terbiasa mengekspresikan diri cenderung memendam perasaan. Anak yang memendam perasaan menjadi sasaran empuk perundungan.
Tujuan program ini sederhana: memberikan ruang aman bagi anak korban bullying untuk bersuara melalui tulisan, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi mereka.
Kami memulai dengan pemberian pemahaman tentang bullying dan dampaknya. Anak-anak kami ajak mengenali apa itu perundungan, mengapa itu salah, dan apa akibatnya bagi korban maupun pelaku.
Kami memutar film pendek animasi The Bully Monster sebuah kampanye dari Vanish yang dibuat oleh BETC HAVAS dan LOBO. Film ini menggambarkan bagaimana perundungan “membayangi” korban seperti monster yang semakin besar setiap hari.
Anak-anak menonton dengan hening. Beberapa dari mereka menunduk. Beberapa menggigit bibir. Kami tahu film ini menyentuh sesuatu yang selama ini mereka pendam.
Inilah jantung program. 20 siswa kelas 6 kami ajak menuliskan perasaan, pengalaman, atau ketakutan mereka tentang bullying. Kami pilih kelas 6 karena mereka adalah anak-anak tertua yang kelak bisa menjadi agen perubahan bagi adik-adik kelasnya.
Awalnya suasana hening. Beberapa anak bingung. Tapi setelah diberi panduan, satu per satu mulai menulis.
Dan ketika tiba saatnya membacakan hasil karya, keajaiban terjadi. Banyak dari mereka yang menangis. Tangisan lega karena selama bertahun-tahun mereka memendam luka, namun tidak pernah punya tempat untuk bersuara.
Dua tulisan paling menusuk hati:
“Saat aku melihat temanku di-bully, rasanya aku tak tega, tapi aku takut membantu karena nanti aku juga kena bully.”
“Rasanya aku ingin sekali berhenti sekolah dengan sikap teman-temanku yang selalu membullyku, tapi aku juga kasihan kepada ayah jika aku tidak sekolah.”
Dari 20 siswa, ada 1 siswi yang sama sekali tidak mau menulis. Ia hanya menangis dan bercerita kepada teman saya, namun belum mau terbuka. Saya tidak memaksanya. Saya hanya berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Kamu boleh menulis kapan pun kamu siap.”
Di akhir sesi, kami membuat ‘Pohon Harapan’ sebuah ranting kering yang kami tanam di pot yang sudah saya siapkan. Setiap anak menuliskan komitmen mereka di kertas, lalu menempelkannya di ranting tersebut.
Satu per satu mereka mendekati pot itu. Dengan tangan mungil dan mata berbinar, mereka menempelkan daun-daun harapan. Ranting kering itu perlahan berubah menjadi pohon yang rimbun oleh komitmen-komitmen kecil.
Pohon Harapan itu kini berdiri di sudut ruang kelas 6 SD N Karangasem 2. Bukan sekadar pajangan. Itu adalah saksi bisu dari 20 anak kecil yang berjanji menjadi pribadi yang lebih baik.
Hasil program ini sungguh di luar dugaan. Banyak siswa yang sebelumnya menjadi korban dan tidak pernah berani bicara, akhirnya mulai terbuka. Mereka merasa didengar dan tidak lagi sendirian.
Kami juga mengajak guru untuk memantau perkembangan siswa setelah KKN usai. Saya berpesan agar beliau memberikan teguran lembut jika ada anak yang kembali tertutup, serta membuka ruang cerita melalui sesi pendekatan emosional secara rutin.
Program ini tidak berjalan mulus. Tantangan terbesar adalah keberanian anak untuk membuka diri. Dari 20 siswa, 1 siswi belum mau menulis dan terbuka sepenuhnya. Beban yang ia bawa mungkin terlalu berat untuk diungkapkan dalam satu pertemuan singkat.
Kami juga menyadari bahwa satu hari tidak cukup. KKN hanya sebentar, tetapi guru hadir setiap hari. Karena itu, kami melibatkan guru sebagai pengawal perubahan jangka panjang.
Di SD N Karangasem 2, saya melihat sendiri bagaimana 20 siswa kelas 6 menangis, tertawa, dan berjanji menjadi pribadi yang lebih baik. Saya melihat bagaimana menulis menyembuhkan luka yang selama ini tersembunyi. Saya melihat bagaimana selembar kertas bisa mengubah diam menjadi suara, dan rasa takut menjadi keberanian.
Saya berharap program ini tidak berhenti di sini. Semoga Pohon Harapan terus tumbuh bukan hanya ranting kering di pot, tetapi juga di hati setiap anak yang berani bersuara.
Terima kasih kepada SD N Karangasem 2, para guru, kepala sekolah, dan masyarakat Karangasem yang telah menyambut kami dengan hangat. Terima kasih pula kepada Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) dan dosen pembimbing yang telah memberi kesempatan kami mengabdi. ( ist/***)
