FOTO : Wawan Pramono Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Tengah
FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Aroma menyengat dan pemandangan tumpukan sampah yang meluber hingga ke badan jalan di beberapa titik pasar tradisional wilayah Colomadu dan Gondangrejo bukan lagi rahasia umum. Keluhan warga soal polusi udara dan kegelisahan pedagang akan turunnya omzet akibat lingkungan yang kumuh menjadi “menu” harian yang tak kunjung usai.
Namun, di mata Wawan Pramono, Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Tengah, tumpukan sampah organik yang menggunung itu seharusnya tidak menjadi beban daerah, melainkan solusi bagi kedaulatan pangan petani di Solo Raya.
Sampah Pasar: Aset yang Terbuang
Wawan menilai, masalah sampah di pasar tradisional Colomadu dan Gondangrejo berakar pada manajemen pemilahan yang belum menyentuh substansi pemanfaatan kembali. Selama ini, sampah hanya dipandang sebagai limbah yang harus segera dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Kita harus mengubah paradigma. Sampah pasar, terutama sisa sayuran dan buah, adalah emas hijau bagi petani. Di Colomadu dan Gondangrejo, volume sampah organik ini luar biasa besar. Jika ini dipilah sejak dari lapak pedagang, kita punya suplai bahan baku pupuk organik yang tak terbatas,” ujar Wawan Pramono saat ditemui di sela kegiatannya.
Misi Tani Merdeka: Dari Pasar ke Sawah
Melalui program Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan mendorong adanya integrasi logistik antara pengelola pasar dan kelompok tani. Misi ini bukan sekadar membersihkan pasar, tapi membangun ekosistem ekonomi sirkular.
“Misi kami jelas: kemandirian pupuk. Saat petani teriak pupuk mahal atau langka, solusinya ada di depan mata kita, di pasar-pasar itu. Kami ingin mendorong adanya pusat pengolahan kompos di tingkat kecamatan yang mengolah sampah organik pasar menjadi pupuk siap pakai,” tambahnya.
Menurutnya, pemilahan sampah di pasar Colomadu dan Gondangrejo akan memberikan dampak instan:
1. Bagi Warga: Bau busuk hilang karena sampah organik langsung diproses dengan dekomposer, tidak dibiarkan membusuk secara anaerob di pinggir jalan.
2. Bagi Pedagang: Lingkungan pasar menjadi bersih dan nyaman, yang secara otomatis akan menarik kembali minat pembeli.
3. Bagi Petani: Mendapatkan akses pupuk organik cair maupun padat dengan harga yang jauh lebih murah.
Edukasi dan Eksekusi
Wawan menekankan bahwa kunci utama ada pada kemauan politik dan edukasi kepada pedagang. Tani Merdeka siap bersinergi dengan pemerintah daerah dan pengelola pasar untuk memberikan pelatihan pengolahan limbah.
“Jangan hanya berhenti di retribusi. Berikan edukasi bahwa memilah sampah itu ibarat menabung kesuburan tanah. Kami di Tani Merdeka siap menjadi jembatan agar sampah dari Gondangrejo dan Colomadu tidak berakhir sia-sia di TPA, tapi kembali ke sawah sebagai nutrisi,” tegas Wawan.
Menatap Masa Depan
Kini, harapan ada pada langkah nyata kolaborasi antara pemangku kebijakan di Karanganyar dengan organisasi masyarakat seperti Tani Merdeka. Mengubah wajah pasar tradisional dari sumber masalah menjadi sumber berkah bukanlah hal mustahil.
Jika manajemen pemilahan sampah ini berhasil dieksekusi, Colomadu dan Gondangrejo bisa menjadi *pilot project* nasional tentang bagaimana sebuah wilayah menyelesaikan masalah urban sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari akar rumput.
( bre )
