FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Ada yang berbeda dengan suasana Halal Bihalal di MI Muhammadiyah (MIM) Bloran, Kerjo, Karanganyar pada Sabtu (4/4/2026). Tak hanya menjadi ajang jabatan tangan dan saling memaafkan, kegiatan ini bertransformasi menjadi ruang edukasi parenting dan penguatan ekonomi melalui program ketahanan pangan keluarga.
Acara yang dipusatkan di halaman Gedung Timur MIM Bloran ini dihadiri oleh ratusan wali murid, tenaga pendidik, serta tokoh masyarakat setempat. Momentum ini juga bertepatan dengan agenda pengambilan hasil Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) siswa.
Transformasi Makna Halal Bihalal
Kepala MIM Bloran menegaskan bahwa pihak sekolah ingin memberikan nilai tambah bagi para orang tua siswa di momen Idulfitri tahun ini.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih bermakna. Tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga memberikan bekal nyata kepada orang tua melalui materi parenting dan ketahanan pangan keluarga,” ungkapnya.
Pesan Rahadi Al Paluri: “Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah”
Hadir sebagai pembicara utama, Rahadi Al Paluri, Founder Rumah Belajar ABA sekaligus Presidium KAHMI Kota Surakarta, memberikan paparan yang menggugah. Ia menekankan bahwa kebersihan hati setelah Ramadhan harus diiringi dengan kemandirian rumah tangga.
“Setelah hati kita bersih, saatnya rumah kita juga kuat—terutama dalam urusan pangan. Ketahanan pangan itu dimulai dari rumah, bukan dari pemerintah dulu,” tegas Rahadi di depan para peserta.
Dengan gaya santai dan interaktif, Rahadi menyentil fenomena kenaikan harga bahan pokok yang kerap meresahkan masyarakat. “Yang pedas itu bukan cuma sambal, tapi harga cabai. Lalu kenapa kita tidak mulai menanam sendiri?” selorohnya yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Ia juga membagikan tiga strategi praktis bagi keluarga:
-
Pemanfaatan pekarangan sempit untuk tanaman produktif.
-
Pengolahan limbah dapur menjadi pupuk organik.
-
Integrasi ternak kecil, seperti ayam kampung, di lingkungan rumah.
Menanam Tumbuhan, Menanam Karakter
Senada dengan Rahadi, Bunda Nining dari PSA Bocahpintar Karanganyar menyoroti sisi psikologis dari aktivitas menanam. Menurutnya, mengajak anak bercocok tanam adalah metode parenting yang efektif.
“Menanam itu bukan hanya soal tumbuhan, tapi juga tentang menanam nilai kesabaran, tanggung jawab, dan harapan pada anak,” jelas Bunda Nining.
Antusiasme Tinggi
Kegiatan berlangsung dinamis, terutama saat sesi tanya jawab. Para wali murid tampak antusias berkonsultasi mengenai teknis menanam cabai di lahan terbatas hingga cara mengolah sampah organik rumah tangga agar tidak terbuang percuma.
Melalui inovasi kegiatan ini, MIM Bloran berhasil membuktikan bahwa institusi pendidikan dapat menjadi motor penggerak kemandirian pangan. Acara ditutup dengan semangat kebersamaan untuk mewujudkan keluarga yang mandiri, sehat, dan berdaya.
Salam Taqwa, Cerdas, dan Berakhlaqul Karimah.
( Bre suroto )
