Sosok Inspiratif: Wawan Pramono Jadikan KWT Kodan Asri Tohudan Karanganyar Sebagai ‘Kompas’ Tani Merdeka

FOTO : Wawan Pramono ketua Tani merdeka Jawa Tengah

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Sebuah gerakan besar seringkali dimulai dari ketelatenan para ibu di pekarangan rumah. Hal inilah yang ditangkap oleh Ketua DPD Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, saat mengamati geliat KWT Kodan Asri yang bermarkas di Senden, Tohudan, Colomadu.

Di bawah komando Endang Darni, M.Pd, kelompok wanita tani ini sukses membuktikan bahwa pertanian perkotaan bukan sekadar hobi. Mereka telah berhasil membangun ekosistem ekonomi mandiri dengan memasok hasil panen sayuran segar ke SPPG di kawasan Colomadu secara konsisten.

Menjadi Role Model Kemandirian

Wawan Pramono menegaskan bahwa keberhasilan KWT Kodan Asri harus menjadi cermin bagi seluruh anggota Tani Merdeka. Menurutnya, kepemimpinan Endang Darni yang mampu menggerakkan warga Senden adalah bukti bahwa manajemen pertanian yang rapi bisa menghasilkan dampak nyata.

“KWT Kodan Asri adalah role model. Saya ingin kawan-kawan Tani Merdeka belajar dari sini. Tidak perlu muluk-muluk langsung bicara lahan hektaran, lihatlah bagaimana ibu-ibu di Tohudan ini memulai dari lingkungan terkecil,” ujar Wawan.

Strategi “Pangan Mandiri” dari Dapur Sendiri

Meski memiliki visi besar untuk menyokong program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Wawan mengingatkan anggotanya untuk tidak melupakan fondasi utama: Ketahanan Pangan Keluarga.

Ia mendorong agar setiap anggota Tani Merdeka setidaknya mampu mengikuti jejak KWT Kodan Asri dalam skala terkecil. Jika belum mampu menjadi pemasok pasar, minimal harus mampu memperkuat kedaulatan pangan di meja makan sendiri.

Narasi Kuat: Mengapa Harus Ketahanan Pangan Keluarga?

Program pertanian keluarga bukan sekadar soal menanam sawi atau cabai, melainkan sebuah benteng pertahanan ekonomi. Dalam narasi pertanian modern, ketahanan pangan keluarga adalah kunci menghadapi ketidakpastian global.

  • Kedaulatan di Tangan Ibu: Seperti yang dipraktikkan KWT Kodan Asri, pemanfaatan lahan pekarangan memutus rantai ketergantungan pada fluktuasi harga pasar. Saat harga pangan melonjak, keluarga yang mandiri pangan tetap memiliki akses nutrisi yang stabil.

  • Literasi Gizi: Dengan menanam sendiri, kualitas asupan anggota keluarga lebih terjamin—bebas pestisida berbahaya dan lebih segar. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi mendatang.

  • Ekonomi Berkelanjutan: Penghematan belanja dapur dari hasil kebun sendiri dapat dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan atau tabungan, menciptakan keluarga yang lebih tangguh secara finansial.

Menanam Harapan dari Senden

Wawan meyakini, jika semangat KWT Kodan Asri ini menular ke seluruh pelosok Jawa Tengah, maka cita-cita swasembada pangan bukan lagi sekadar slogan di atas kertas.

“Kita mulai dari rumah, dari pekarangan, dan dari kemauan. KWT Kodan Asri sudah membuktikannya di Tohudan, kini giliran kita semua bergerak,” pungkas Wawan Pramono optimis. ( bre suroto )