FOKUSJATENG.COM-GROBOGAN – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Tanggungharjo bertekad mengelola kotak infaq (koin) NU secara serius. Pengelolaan modern dan transparansi ini dilakukan sebagai bentuk gerakan kemandirian umat. Buktinya, pendapatan koin NU tembus Rp 25.445.600, hanya dalam waktu lima bulan.
Para pengurus PRNU Tanggungharjo mengakui bahwa lonjakan perolehan ini karena keseriusan dalam mengelola amanah umat. ”Kami para pengurus ranting NU sangat serius dalam pengelolaan. Kami mengakomodir setiap usulan masyarakat agar mereka ikut berperan aktif dan memiliki kepercayaan kepada pengurus,” papar Ketua Tanfidziyah PRNU Tanggungharjo, Joko Santoso, Senin 8 Juni 2026.
Kepercayaan warga sangat tinggi lantaran pengurus menggunakan model yang semula konvensional menjadi digitalisasi dalam sistem pelaporan. Dengan demikian, semua warga dapat mengetahuinya dan transparan. Seluruh aliran dana, baik yang masuk maupun yang disalurkan (pentasyarufan), dapat dipantau secara real-time oleh publik. “Warga cukup mengakses laman resmi https://nurantingtanggungharjo.com/coin/,” tambah Wakil Ketua Bidang Kemasyarakatan PRNU Tanggungharjo, Arif Afandi.
Lantaran dilihat secara real-time, maka hasil perolehan koin NU bisa dipantau langsung oleh masyarakat secara online. Maka hal ini menjadikan masyarakat percaya kepada pengurus NU, terutama UPZIS (Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah). “Karena kepercayaan terbangun, maka berdampak pada perolehan koin bisa mencapai Rp 25 juta lebih,” paparnya.
Lantas, model kepercayaan berikutnya adalah dana yang terkumpul tidak dibiarkan mengendap di rekening. UPZIS NU Tanggungharjo memfokuskan dana tersebut pada program-program sosial yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar warga. Program unggulan mereka di antaranya adalah subsidi kesehatan dan khitan gratis, di samping santunan kematian, santunan kaum dhuafa, serta anak yatim.
Prinsip pengelolaan dana umat ini dipertegas oleh Syuriah PRNU Tanggungharjo, Gus Syihab. Menurutnya, NU di tingkat ranting harus memiliki wawasan yang lebih terbuka dan moderat. Kunci dari keterbukaan itu adalah digitalisasi.
”Transparansi dengan cara digitalisasi adalah kunci keterbukaan. Kami siap mengakomodir usulan masyarakat dalam setiap program yang dijalankan. Dan yang paling penting, saldo hasil Koin harus NOL rupiah agar semua program jalan,” tambah Gus Syihab. (rh)
