Fokus Jateng-BOYOLALI,-Cuaca ekstrem berdampak pada tingginya kasus penularan leptospirosis, yakni infeksi bakteri yang menyebar melalui urine tikus yang terinfeksi leptospira. Boyolali menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.
Kepala Dinas kesehatan Boyolali, Puji Astuti, mengatakan ada 18 kasus leptospirosis dalam periode Februari hingga akhir Juni 2025 di Boyolali. Dari jumlah tersebut terdapat 5 kematian yang tersebar di beberapa wilayah, yakni Kecamatan Boyolali (1 kasus), Banyudono (2), Sambi (1), dan Simo (1).
“Untuk yang meninggal dunia di Kecamatan Boyolali 1 orang, Banyudono 1 orang, Sambi dua orang, dan Simo 1 orang. Waktu kematian ada Februari 1 orang, Maret 1 orang, April 1 orang, dan Mei dua orang,” katanya. Senin 7 Juli 2025.
Sedangkan 18 kasus tersebut tersebar di sembilan kecamatan yaitu Ampel, Boyolali, Mojosongo, Banyudono, Sawit, Simo, Sambi, Nogosari, dan Ngemplak.
Ia menuturkan setelah temuan kasus ini, pihaknya langsung menerjunkan tim surveilans yang bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Yogyakarta.
“Setelah kejadian kami langsung turunkan tim ke lapangan. Kami juga bekerja sama dengan Bapelkes Jogja untuk melakukan pengamatan dan intervensi cepat,” ujar Puji.
Lebih lanjut, Puji menegaskan pentingnya menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama dalam hal sanitasi dan kebersihan lingkungan.
“Yang paling penting itu adalah higenis sanitasi. Tikus jangan sampai masuk rumah. Kita tidak tahu, kencingnya itu mengandung bakteri leptospira atau tidak,” jelasnya.
Puji menyebut, jenis tikus yang paling berpotensi menyebarkan bakteri mematikan ini adalah tikus got yang berukuran besar.
Dalam beberapa kasus terbaru, ditemukan adanya tempat pengepul barang rongsok di sekitar lokasi kasus, yang diduga menjadi tempat berkembang biaknya tikus tersebut.
“Beberapa kasus ternyata lokasinya dekat pengepul rongsok. Ini menjadi perhatian karena tikus-tikus besar sering muncul di area seperti itu,” ungkapnya.
Terkait tingginya angka kematian, Dinkes Boyolali sudah berkoordinasi dengan dokter spesialis penyakit dalam.
Menurut Puji, fatalitas penderita leptospirosis bukan semata karena lambatnya penanganan, melainkan tergantung dari jenis bakteri yang menginfeksi.
“Kalau yang masuk itu jenis bakteri ganas, bisa cepat merusak organ tubuh dan menyebabkan kegagalan fungsi organ,” jelasnya.
Puji kembali mengimbau masyarakat Boyolali untuk meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan, baik di lingkungan rumah maupun tempat kerja.
“Jaga kebersihan lingkungan. Jangan biarkan tikus bersarang, apalagi di dalam rumah, karena penyakit leptospirosis ini bisa menimbulkan komplikasi, ke liver, jantung, otak, dan sebagainya.” ( yull/**)
