Enam Meninggal Dunia Pascagempa Halmahera Selatan, Ini Identitas Lengkapnya

Ilustrasi by Pixabay (/Fokusjateng.com)

FOKUSJATENG- JAKARTA – BPBD telah mengidentifikasi 6 korban meninggal pascagempa M 7,2 yang terjadi pada Minggu (14/7) lalu. Satu meninggal di di pengungsian, lima lainnya akibat reruntuhan bangunan.

Satu korban meninggal dunia, Saima (90), warga Nyonyifi meninggal dunia di pengungsian daerah dataran tinggi di Desa Nyonyifi, Kecamatan Bacan Timur. Berikut ini nama korban meninggal dunia lainnya pascagempa tersebut:
1) Ibu Aisyah (54 tahun), asal Desa Ranga-Ranga, Gane Barat Selatan
2) Aspar Mukmat (20), Desa Gane Dalam, Gane Timur Selatan
3) Sagaf Girato (50), Desa Yomen, Joronga
4) Aina Amin (50), Desa Gane Luar Kec. Gane Timur Selatan
5) Wiji Siang (60), Desa Gane Luar Kec. Gane Timur Selatan

Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, bantuan logistik terus mengalir untuk penanganan darurat. BNPB mengirimkan 1 unit helikopter Mi-8 untuk mendistribusikan bantuan, seperti tenda keluarga dan barang lainnya. Bantuan tenda lain telah disiapkan pengirimannya melalui pesawat Hercules yang tiba pada malam tadi (16/7).

“Selain pengiriman via udara, BNPB telah mengirimkan dukungan logistik melalui kapal. Bongkar muat dari kapal tanker ke kapal yang lebih kecil telah dilakukan,” terang Agus sebagaimana dilansir laman resmi BNPB.

Sejauh ini Pemerintah Halmahera Selatan telah membentuk pos komando (posko) untuk melakukan penanganan darurat. Dapur umum yang dioperasikan pemerintah daerah (pemda) yang dibantu TNI dan Polri untuk melayani 9 pos pengungsian di Kota Labuha. Pemerintah setempat menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari, terhitung 15 – 21 Juli 2019.

Rabu (17/7/2019) malamnya, gempa kembali mengguncang Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara dengankekuatan 5,2 magnitudo.

Data yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ambon menyebutkan, episentrum gempa berada pada titik koordinat 0.97 Lintang Selatan dan 128.74 Bujur Timur atau berjarak 129 kilometer timur Obi, dan 143 kilometer timur Labuha, Maluku Utara pada kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski begitu, gempa tersebut cukup dirasakan getarannya di wilayah tersebut.