Buah Kesemek, di Balik Pesona Wisata Alam Lereng Merapi-Merbabu Selo Boyolali

Warga Kecamatan Selo, Boyolali menjajakan buah kesemek di depan rumahnya. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Potensi yang dimiliki Kabupaten Boyolali seakan tidak ada habisnya. Kali ini di Kecamatan Selo yang mempesona, selain bisa menikmati wisata alam yang disajikan oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, pengunjung bisa sekaligus menikmati buah khas Selo yang namanya kesemek. Namun masyarakat Selo menyebut buah ini dengan sebutan buah kledung.

“Ada buah yang sangat istimewa adanya hanya di Selo. Buah ini meski sudah kuning tidak bisa langsung dimakan, harus diproses terlebih dahulu dengan kapur. Buah ini kita sebut kesemek atau bahasa daerahnya kledung,” ungkap Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Keabupaten Boyolali, Bambang Jiyanto saat memanen kledung di Desa Samiran; Kecamatan Selo pada Senin (13/5).

Menurutnya, pohon yang mampu menghasilkan 4 hingga 5 kuintal buah perpohon ini tidak mudah untuk dikembangkan. Hal tersebut karena pohon yang didatangkan pada masa penjajahan Jepang ini hanya cocok ditanam di daerah Selo, sehingga untuk dikembangkan cukup sulit.

Sementara petani setempat, Tamami mengatakan bahwa produksi potensial yang dihasilkan Desa Samiran mampu panen lebih dari 60 ton per musim. Angka tersebut didapat saat masa panen tiba sekitar Mei hingga awal Juli.

“Kebanyakan tumbuh di halaman dan pinggiran kebun karena jika di dalam kebun bisa mengganggu tanaman yang lain. Setiap musim sekitar 60-70 ton dijual ke Jogja, Salatiga, Banjarnegara, ada pula ke Kalimantan dengan harga per kilo rata-rata Rp 5-6 ribu dengan isi sekitar 8-9 biji,” terangnya.

Untuk bisa dikonsumsi buah ini harus masak dahulu. Buah kledung harus direndam terlebih dulu dengan rendaman air kapur. Jadi banyak orang mengira warna putih pada buah tersebut menjadikan tidak menarik. Padahal warna putih tersebut yakni kapur yang dapat menghilangkan rasa sepat dan getahnya.

Jika tidak ingin repot untuk merendam, pembeli bisa membeli buah ini di pinggir jalan jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB). Dengan harga yang relatif cukup murah, pembeli bisa menikmati buah dengan tekstur dagingnya mirip dengan buah pear, lembut dan berair, sangat segar dikonsumsi.