FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Riuh langkah kaki dan hembusan napas hangat di tengah dinginnya angin malam akan kembali menghidupkan kawasan lereng Gunung Lawu. Menyambut datangnya Bulan Suro atau Tahun Baru Islam, puncak gunung berketinggian 3.265 mdpl ini diprediksi bakal mengalami lonjakan arus pendakian yang signifikan. Bukan sekadar pendaki biasa yang mencari pemandangan matahari terbit, namun juga masyarakat yang ingin merawat tradisi ritual spiritual tahunan yang sarat akan nilai sakral.
Merespons tingginya animo tersebut, Perusahaan Umum Daerah (PUD) Aneka Usaha Karanganyar bergerak cepat. Direktur Utama PUD Aneka Usaha Karanganyar, Samidi, S.T., M.A.P., memastikan bahwa dua jalur utama di bawah naungan operasional mereka, yakni via Candi Cetho (Kecamatan Jenawi) dan via Cemoro Kandang (Kecamatan Tawangmangu), kini dalam kondisi siap total melayani para pengunjung.
Samidi menegaskan bahwa seluruh pos pendakian di kedua jalur wilayah Jawa Tengah tersebut dipastikan tetap beroperasi secara optimal tanpa terkecuali. Langkah ini diambil untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pendaki umum yang berwisata, maupun masyarakat yang hendak melakukan laku prihatin atau ziarah spiritual sepanjang Bulan Suro.
Sinergi Berlapis di Balik Tabir Keselamatan
Melindungi ribuan kepala di atas gunung bukanlah perkara mudah, terlebih di momentum krusial seperti perayaan Suro. Guna mengawal keselamatan para pendaki, Samidi menjelaskan bahwa pihaknya telah membangun sinergi lintas sektoral yang kuat dengan menggandeng Perum Perhutani KPH Surakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, serta elemen relawan lokal.
Puluhan personel gabungan dari Anak Gunung Lawu (AGL), Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ceto, hingga tim SAR dikerahkan secara berlapis. Mereka bersiaga penuh mulai dari pintu masuk utama (basecamp) hingga tersebar di pos-pos pemantauan darurat di sepanjang jalur pendakian. Langkah antisipatif ini sengaja diterapkan untuk mengurai potensi kepadatan arus, sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kondisi darurat atau insiden medis di atas gunung.
Menantang ‘Bediding’ dan Menjaga Kesakralan: Aturan yang Wajib Dipatuhi
Bulan Suro kali ini hadir bersamaan dengan puncak musim kemarau. Samidi mengingatkan adanya fenomena alam khas pegunungan yang tengah terjadi, yakni cuaca ekstrem dingin atau yang akrab disebut masyarakat Jawa sebagai musim bediding. Menghadapi tantangan alam yang kering dan menusuk tulang, Dirut PUD Aneka Usaha Karanganyar tersebut mengeluarkan panduan dan aturan tegas demi keselamatan bersama:
-
Persiapan Fisik dan Logistik Ekstrem: Mengingat suhu udara di puncak Lawu dapat turun drastis, pendaki wajib melengkapi diri dengan pakaian hangat standar gunung (jaket tebal), kantong tidur (sleeping bag), serta pasokan logistik dan air bersih yang memadai.
-
Registrasi Resmi (SIMAKSI): Tidak ada toleransi bagi pendakian ilegal. Seluruh pendaki diwajibkan melakukan registrasi resmi di basecamp sebelum memulai perjalanan dan mematuhi batas jam turun yang telah dijadwalkan oleh petugas lapangan.
-
Larangan Keras Api Unggun: Di tengah vegetasi gunung yang mengering akibat kemarau, percikan api sekecil apa pun bisa memicu petaka. Pendaki dilarang keras membuat perapian atau api unggun sembarangan guna mencegah bencana kebakaran hutan.
-
Menjaga Tata Krama dan Kebersihan: Gunung Lawu bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang spiritual yang dihormati. Pendaki diimbau menjaga tutur kata, menghormati ritual lokal, dan memiliki kesadaran tinggi untuk membawa kembali seluruh sampah mereka turun ke bawah.
Komitmen Pengelola
Komitmen untuk menjaga keseimbangan antara pelayanan wisata, kelestarian alam, dan penghormatan budaya menjadi fokus utama PUD Aneka Usaha Karanganyar di bawah kepemimpinan Samidi. Ia menyampaikan pesan hangat sekaligus pengingat bagi siapa saja yang hendak melangkahkan kaki ke gunung sakral tersebut:
“Kami menyambut baik kedatangan para pendaki di Bulan Suro ini, baik yang ingin menikmati keindahan alam maupun yang hendak berziarah mendalami tradisi. Namun, keselamatan tetaplah menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Kami meminta kerja sama dari semua pihak untuk selalu mematuhi instruksi petugas di lapangan demi kebaikan kita bersama,” ujar Samidi, S.T., M.A.P.
Dengan kesiapan yang matang dari pihak pengelola dan kesadaran penuh dari para pendaki, tradisi Suro di Puncak Lawu diharapkan dapat berlangsung dengan khidmat, aman, dan tetap lestari.
( bre )
BAGIKAN
- Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi via Google+(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
- Lagi
- Klik untuk berbagi pada Pinterest(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi via Pocket(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)
- Bagikan di Skype(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk mengirim ini lewat surel kepada seorang teman(Membuka di jendela yang baru)
