FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Suasana malam di Ndhalem Kasumantan, Suruh, Tasikmadu, Karanganyar mendadak khidmat. Angin malam yang berembun seolah kalah oleh kehangatan ratusan pasang mata yang memadati pelataran sebuah Joglo megah. Rumah pribadi milik H. Sumanto, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, malam itu disulap menjadi episentrum kebudayaan melalui pergelaran wayang kulit yang sarat makna.
Malam itu, kelir (layar wayang) membentang, menghidupkan kembali sebuah epos klasik yang digubah secara apik oleh Ki Sulardiyanto Pringgo Carito selaku kurator pergelaran. Di bawah arahan kurasinya, lakon yang diangkat bukan sekadar tontonan hiburan biasa, melainkan Babat Alas Wanamarta—sebuah kisah tentang bertahan hidup, kedaulatan, dan transformasi spiritual yang dikemas dengan kedalaman estetika yang tinggi.
Dari Trauma Menuju Kedaulatan: Ringkasan Lakon
Kisah dimulai dari puing-puing sisa kebakaran Palace of Pramonokoti yang hampir menjadi kuburan massal bagi Pandawa. Belum kering trauma mereka, politik licik Astina yang didalangi Sengkuni kembali menabuh genderang penindasan. Alih-alih mendapatkan hak takhta, Yudhistira dan adik-adiknya justru diasingkan ke Alas Wanamarta—sebuah hutan belantara angker yang diselimuti kabut mistis kuno dan dikuasai oleh lima penguasa jin sakti.
Namun, Pandawa menolak menyerah. Di bawah tebasan kapak Bima dan keheningan batin Arjuna, benturan dua dunia tak terhindarkan. Menariknya, titik balik pertempuran bukan dicapai lewat pertumpahan darah atau genosida makhluk gaib, melainkan melalui keteguhan moral dan kesucian hati Yudhistira.
Satu per satu, para penguasa gaib Wanamarta justru memilih untuk manunggal (meleburkan diri) ke dalam jiwa para Pandawa. Dari abu hutan angker tersebut, muncullah sebuah keajaiban arsitektur: Kerajaan Amarta, sebuah episentrum baru keadilan yang siap menantang arogansi Astina.
Filosofi Kekinian: “Babat Alas” di Era Modern
Melalui tangan dingin Ki Sulardiyanto Pringgo Carito dalam mengawal jalannya pergelaran, lakon ini tidak dibiarkan menjadi dongeng masa lalu yang usang. Ada benang merah filosofis yang ditarik kencang ke realitas kehidupan modern kita saat ini.
1. Mengubah Krisis Menjadi Peluang (Turning Point)
Alas Wanamarta adalah simbol dari “zona tidak nyaman” atau krisis hidup yang ekstrem. Di era ketidakpastian saat ini, kita sering kali dihadapkan pada “hutan belantara” tantangan baru—mulai dari tekanan ekonomi hingga persaingan hidup yang ketat. Lakon ini mengajarkan bahwa kepasrahan bukanlah opsi. Krisis harus dihadapi, dibabat, dan diubah menjadi peluang emas.
2. Filosofi “Manunggal”: Kolaborasi, Bukan Kompetisi Brutal
Kemenangan Pandawa atas para jin bukan karena mereka memusnahkan musuh, melainkan karena mereka mampu merangkul dan menyatukan energi (manunggal). Dalam konteks modern, ini adalah esensi dari kolaborasi. Untuk membangun sesuatu yang besar—baik itu bisnis, komunitas, maupun tatanan sosial—kita tidak bisa berjalan sendiri dengan keangkuhan. Kita harus mampu menyatukan berbagai potensi yang ada di sekitar kita.
3. Kepemimpinan Berbasis Nilai (Value-Based Leadership)
Mengapa Raja Jin takluk pada Yudhistira? Bukan karena senjata, melainkan karena pancaran integritas dan ketenangan spiritual. Di tengah dunia yang bising oleh pencitraan, dunia profesional dan sosial hari ini merindukan sosok yang memiliki keteguhan moral. Pemimpin yang tidak menggunakan kekuatan untuk menindas, melainkan untuk menegakkan keadilan universal.
Joglo H. Sumanto: Ruang Budaya yang Hangat dan Terbuka
Pemilihan kediaman pribadi H. Sumanto sebagai tempat pergelaran ini pun seakan mempertegas pesan dari lakon Amarta itu sendiri. Rumah pribadi seorang tokoh publik malam itu bertransformasi menjadi ruang kultural yang inklusif, tempat di mana seni adiluhung bertemu langsung dengan masyarakat akar rumput tanpa sekat penumpuk jarak.
Melalui malam penuh magis di Karanganyar ini, masyarakat diingatkan kembali: babak baru perjuangan terhadap ketidakadilan dan keputusasaan di era modern… baru saja dimulai.
( bre )
