Hama Tikus dan Penggerek Batang Mengganas di Boyolali

FokusJateng.com – BOYOLALI, – Saat ini hama tikus masih menjadi ancaman. Bahkan, hama tikus menempati urutan pertama dengan sebaran paling merata di wilayah Boyolali.

“Hama tikus merupakan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan luasan serangan terbesar dan sebarannya cukup merata di beberapa wilayah, antara lain Kecamatan Mojosongo, Teras, Boyolali Kota. Akhir-akhir ini serangan juga mulai meluas ke wilayah utara, tepatnya di Kecamatan Klego dan Andong,” kata Kepala Dinas Pertanian Boyolali, Suyanta,  Jum’at 5 Juni 2026.

Kemudian data Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali menyebut urutan kedua ditempati penggerek batang padi. Wilayah terdampak meliputi Karanggede, Mojosongo, Banyudono, Sawit, Sambi, dan Ngemplak.

Selain itu, Suyanta menambahkan, saat memasuki musim kemarau dengan suhu lebih panas, kondisi agroklimat memicu kemunculan wereng batang cokelat.

“Terhitung Mei hingga Juni ini, serangan wereng batang cokelat dilaporkan mulai menyebar di beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Nogosari, Sambi, dan Wonosegoro,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Boyolali, serangan dari total luasan lahan yang terserang dibandingkan luasan total panen, rata-rata penurunan hasil panen secara keseluruhan berkisar antara 30 sampai 35 persen.

“Angka ini rata-rata kabupaten, karena ada petani yang rugi besar dan ada yang dampaknya kecil berkat gerakan pengendalian cepat.”

Jika dibanding periode sama tahun lalu, serangan OPT tahun ini lebih tinggi, terutama tikus. Dinas Pertanian memiliki Angka Peramalan luasan serangan tahunan 497 hektare. Namun baru berjalan setengah tahun per Juni, realisasi luasan serangan sudah mencapai 70 persen dari angka peramalan, atau berkisar 300-an hektare.

“Nah, ini menunjukkan tren peningkatan serangan yang cukup signifikan,” katanya.

Untuk menekan laju serangan, Dinas Pertanian menjalankan beberapa strategi. Diantaranya seperti Gerakan pengendalian kontinu bersama kelompok tani secara berkelanjutan. Bantuan rodentisida, dengan distribusi umpan racun tikus ke kelompok tani aktif yang mau pengendalian mandiri.

Kemudian pengasapan/gropyokan, yakni memfasilitasi belerang untuk pengasapan lubang aktif tikus di sawah. Serta memastikan stok insektisida siap. Suyanta juga mengimbau petani segera melapor ke penyuluh lapangan jika melihat gejala serangan dini.

“Saat ini kami sedang melakukan koordinasi intensif dengan berbagai kelompok tani yang ingin mengajukan gerakan pengendalian massal secara bersama-sama,” katanya. ( yull/**)