Belum Diresmikan, Pedagang Sudah Menempati Pasar Sumberlawang Sragen yang Baru, Ini Komen Mereka…

Pedagang beras Pasar Sumberlawang, Sragen sudah menempati tempat baru di lantai dua Rabu 21 Maret 2018. (Huriyanto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG – SRAGEN – Sebagian pedagang sudah mulai menempati Pasar Sumberlawang, Sragen, yang baru saja selesai pembangunannya. Meski sudah beraktivitas di dalam, namun pasar tradisional termegah di Sragen Utara ini belum diresmikan.

Pedagang dan warga sekitar pun meminta Pemkab Sragen segera meresmikan pasar tersebut. Ketika fokusjateng.com mengecek ke lokasi Rabu 21 Maret 2018, sebagian pedagang sudah berjualan. Mereka pindah dari pasar darurat di Lapangan Ngandul, Sumberlawang.

“Kami sudah sekitar seminggu berjualan di dalam pasar baru,” tutur Tumpi (61), salah satu pedagang.

Meski sudah dibangun megah, namun sebagian pedagang mengeluhkan penataan blok jualan. Jika di lantai satu untuk berjualan buah, sayur, dan makanan kecil. Sedangkan di lantai dua untuk kebutuhan sembako, seperti beras.

“Di pasar baru lantai dua sepi,” tutur warga Kedungdowo, Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, ini.

Kondisinya sepi lantaran pembeli memilih beli beras di kios lantai bawah. Setelah membeli beras di kios lantai bawah, pembeli langsung membeli perlengkapan dapur di lantai bawah. “Kebanyakan pembeli males naik,” keluhnya.

Sedikitnya 19 pedangang beras menempati lantai dua Pasar Sumberlawang. Mereka menginginkan berjualan di lantai bawah. Sebab, pedagang kecil, sehingga melayani pembeli yang membeli beras sekala kecil.

“Masih mending jualan di lapangan dulu. Meski becek, tapi pembeli banyak,” kata Mulyani (59), pedagang beras lain.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Sragen Sri Pambudi mengharapkan agar keberadaan Pasar Sumberlawang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan pedagang. Dia juga meminta dinas terkait serius dalam penataan pasar yang ada di Kecamatan Sumberlawang tersebut.

”Kalau memang pasar sudah selesai segera direalisasikan kepada para pedagang untuk segera ditempati, jangan ditunda-tunda,” kata Pambudi.