FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Di ketinggian lereng Gunung Lawu, di mana kabut tipis seringkali menelan jalanan setapak yang curam, sebuah nama tetap tegak dalam memori kolektif masyarakat Jawa: Pertapaan Pringgodani. Bukan sekadar destinasi wisata religi di Tawangmangu, Karanganyar, tempat ini adalah sebuah “ruang antara”—titik temu antara ambisi manusia, mitologi pewayangan, dan pencarian jati diri yang paling dalam.
Jejak Sang Ksatria Udara
Memasuki kawasan Pringgodani, aroma kemenyan yang samar bercampur dengan bau tanah basah segera menyambut. Secara entitas kepercayaan, masyarakat meyakini tempat ini sebagai petilasan atau bahkan istana gaib dari Raden Gatotkaca.
Dalam pakem pewayangan, Pringgodani adalah nama kerajaan Gatotkaca. Namun di lereng Lawu, ia bertransformasi menjadi simbol kekuatan batin. “Orang datang ke sini mencari balung wesi (tulang besi), tapi bukan fisiknya yang jadi besi, melainkan mentalnya yang ditempa agar kuat menghadapi ujian hidup,” ujar salah satu sesepuh di kawasan tersebut.
Filosofi “Laku” dan Air yang Menyucikan
Bagi penganut aliran kepercayaan dan Kejawen, perjalanan menuju Pringgodani adalah sebuah Laku Prihatin. Medan yang berat dan menanjak bukan dianggap sebagai kendala, melainkan metafora dari perjalanan ruhani manusia menuju puncak kesadaran.
Pusat dari spiritualitas di sini adalah air terjun bertingkat yang dianggap sakral. Di bawah guyuran air yang dingin membeku, para peziarah melakukan ritual kungkum (berendam). Secara filosofis, ini adalah simbolisasi dari:
* Pembersihan Sengkolo: Menghanyutkan energi negatif dan sifat buruk manusia.
* Manunggaling Kawula Gusti: Upaya penyatuan diri antara mahluk dengan Sang Pencipta melalui medium alam.
Kontroversi: Antara Wahyu dan Pesugihan
Namun, kesakralan Pringgodani tak luput dari selimut kontroversi. Nama besar tempat ini seringkali disalahartikan oleh mereka yang hanya mengejar “shortcut” kehidupan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pringgodani kerap dikaitkan dengan perburuan Wahyu Kedaton atau pangkat jabatan. Stigma negatif muncul ketika praktik spiritual di sini dianggap bergeser menjadi ajang “ngalap berkah” demi kekayaan instan atau pesugihan.
“Pringgodani itu cermin,” lanjut sang sesepuh. “Kalau kamu datang dengan hati yang rakus, kamu hanya akan bertemu dengan jin-jin yang menyesatkan. Tapi kalau kamu datang untuk olah rasa, kamu akan menemukan ketenangan.”
Sisi kontroversial lainnya muncul dari ketegangan antara tradisi sinkretisme dengan pandangan agama formal. Praktik sesaji dan pembakaran kemenyan di Pringgodani seringkali dipandang sebelah mata oleh kelompok puritan. Padahal, bagi para pelakunya, itu adalah bahasa simbolis untuk menghormati leluhur dan menjaga harmoni dengan alam (Ibu Bumi).
Merawat Sunyi di Tengah Modernitas
Di era digital ini, Pringgodani tetap bertahan sebagai oase bagi mereka yang lelah dengan riuh rendah duniawi. Meski fasilitas pendukung mulai dibangun, aura mistis dan wingit (angker sekaligus sakral) tetap terasa kental.
Pringgodani mengajarkan satu hal penting dalam filosofi Jawa: Ngèlmu iku kalakoné kanthi laku. Bahwa ilmu itu hanya bisa didapat melalui perbuatan dan keprihatinan, bukan sekadar teori.
Hingga saat ini, Pringgodani tetap berdiri teguh di balik kabut Lawu—menjadi saksi bisu bagi ribuan doa yang dipanjatkan, mulai dari permohonan tulus untuk kedamaian jiwa, hingga ambisi-ambisi manusia yang masih terpenjara oleh harta dan tahta. ( bre suroto )
