FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Peluang dan Tantangan Media di Era Disrupsi” yang bertempat di Resto Omah Ingkung, Karanganyar Selasa siang ( 10/2). Acara ini menghadirkan Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sumanto, S.H., sebagai keynote speaker.
Dalam arahannya, Sumanto memberikan apresiasi tinggi terhadap peran strategis media massa di tengah kehidupan bermasyarakat. Ia bahkan mengutip pernyataan Sang Proklamator, Bung Karno, untuk menggambarkan betapa krusialnya peran jurnalis.
“Ada dua hal yang bisa menerangi dunia ini. Satu adalah matahari, dan yang kedua adalah insan pers. Itu kata Bung Karno,” ujar Sumanto di hadapan para peserta FGD.
Menurutnya, media memiliki kemampuan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui informasi terkait berbagai kejadian dan permasalahan yang ada. “Kalau matahari menerangi di siang hari, insan pers adalah alam yang memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui informasi,” tambahnya.
Tantangan Era Digital dan Fenomena “Semua Orang Bisa Jadi Wartawan”
Sumanto juga menyoroti perubahan drastis di era digital saat ini. Ia menekankan bahwa kini setiap orang memiliki platform untuk menyebarkan informasi secara instan.
“Sekarang ini setiap orang yang bisa membaca, bisa menjadi wartawan. Semua serba online, bahkan perkembangan ke depan akan serba cashless menggunakan uang digital,” kata Sumanto.
Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan akan jauh lebih kompleks dan akan didominasi oleh generasi muda yang sangat akrab dengan teknologi. “Generasi sampeyan (anda) semua adalah generasi yang akan melampaui apa yang kita cita-citakan dulu. Sekarang apa saja ada di dalam handphone,” tuturnya.
Kolaborasi Insan Media dan Pemerintah
FGD ini juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya jurnalis senior Bramantyo (Vivanews), Arga Dirgantara (RRI Solo), dan Avria Wahyuana (Solopos). Melalui diskusi ini, diharapkan ada sinergi antara regulator (DPRD) dan pelaku media untuk menghadapi disrupsi.
“Kami dari DPRD dan pemerintah berharap rekan-rekan media bisa memberikan masukan. Banyak hal yang mungkin semua bisa merasakan perubahannya, tapi tidak semua bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi,” tutup Sumanto.
Filosofi Jawa sebagai Strategi Menghadapi Disrupsi
Di sela-sela diskusi, Bre, salah satu peserta dari fokuajateng.com, berbagi perspektif menarik mengenai cara bertahan di era disrupsi yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, filosofi Jawa “Aja gumunan, aja kagetan, aja bingungan” sangat relevan dijadikan strategi mental (mental fortitude):
-
Aja Gumunan (Jangan Mudah Terheran-heran): Di tengah banjir informasi dan kemewahan instan di media sosial, jurnalis dan pelaku media harus tetap kritis dan tidak mudah terjebak FOMO (Fear of Missing Out). Teknologi seperti AI harus dilihat sebagai alat (tool), bukan keajaiban yang menakutkan.
-
Aja Kagetan (Jangan Mudah Terkejut): Disrupsi sering datang tiba-tiba. Dengan sikap tidak mudah kaget, seseorang bisa bereaksi secara rasional ketimbang emosional saat menghadapi perubahan pasar atau regulasi.
-
Aja Bingungan (Jangan Mudah Bingung): Di tengah information overload dan hoaks, memiliki kompas internal atau prinsip hidup yang jelas adalah kunci untuk tetap fokus pada tujuan jangka panjang.
“Di zaman yang serba cepat ini, ketenangan adalah kekuatan super (superpower). Kita harus tahu kapan harus ikut berubah, dan kapan harus tetap teguh pada nilai-nilai dasar,” ungkap Bre. ( srt )
