FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Meneladani sosok Sang Proklamator, Bung Karno, tidak melulu soal pekik merdeka atau pidato politik yang membakar semangat di atas mimbar. Bagi Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, H. Sumanto, S.H., warisan terbesar Bung Karno justru terletak pada bagaimana generasi hari ini merawat apa yang ditinggalkannya: tanah air dan kelestarian alamnya.
Pesan ideologis yang mendalam itu tersirat kuat dalam aksi nyata yang digalang dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno. Di bawah rindangnya pepohonan dan kepungan hamparan sawah, Sumanto turun langsung memimpin gerakan penanaman pohon di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Dalam aksi nyata kali ini, Ketua DPRD Jateng tidak sendirian. Ia tampak didampingi oleh Hanung Turwadji, Anggota DPRD Kabupaten Karanganyar, yang turut hadir memberikan dukungan penuh serta bersinergi bersama masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan di tingkat daerah.
Mengenakan kaus putih-hitam kasual dan topi hitam, Sumanto bersama Hanung Turwadji berdiri di hadapan puluhan warga, tokoh masyarakat, hingga personel TNI. Di balik kesederhanaan penampilannya hari itu, ada interpretasi mendalam yang dibagikan mengenai esensi ajaran Bung Karno yang sangat relevan dengan kondisi alam saat ini.
Menjaga Vitalitas Sungai Cemoro di Desa Dayu
Aksi penghijauan ini dipusatkan di sepanjang aliran Sungai Cemoro yang melintasi Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Sungai Cemoro sendiri dikenal sebagai salah satu aliran sungai yang cukup vital bagi warga setempat, terutama sebagai sumber kehidupan, pengairan pertanian, dan penopang ekosistem di wilayah Gondangrejo.
Dalam orasinya yang disambut antusias oleh warga yang duduk rapi di atas kursi-kursi hijau, Sumanto menegaskan bahwa merawat lingkungan—khususnya menjaga area sekitar sungai vital seperti Sungai Cemoro—bukan sekadar aksi seremonial tahunan atau tren hijau belaka.
“Interpretasi ajaran Bung Karno bagi saya hari ini adalah bagaimana kita, sebagai anak bangsa, menjaga daya hidup alam Bumi Pertiwi. Jika sungai kita kering, tanah kita gersang, dan alam kita rusak, maka runtuhlah pondasi kedaulatan pangan dan energi kita,” ujar H. Sumanto di tengah riuhnya suasana kegiatan.
Bagi legislator asal Jawa Tengah tersebut, Bung Karno adalah sosok yang sangat mencintai keindahan alam Nusantara. Oleh karena itu, menanam pohon di sepanjang aliran Sungai Cemoro menjadi langkah taktis sekaligus teologis untuk mencegah erosi, menjaga ketersediaan air bersih, dan memastikan bumi tetap ‘bernapas’ demi generasi masa depan Karanganyar.
Aksi Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Kegiatan bertajuk ” Bulan Bung Karno: Menjaga Pertiwi” ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten. Kehadiran Hanung Turwadji sebagai perwakilan dari DPRD Karanganyar mempertegas komitmen daerah untuk terus mengawal isu-isu lingkungan yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.
Terlihat dari dokumentasi acara, dialog antara Sumanto, Hanung, dan warga mengalir tanpa sekat, menciptakan sinergi emosional yang kuat demi visi lingkungan yang sama.
Langkah konkret yang diinisiasi oleh para wakil rakyat ini diharapkan mampu memantik kesadaran kolektif masyarakat yang lebih luas. Menjaga alam, menurut Sumanto, adalah cara paling terhormat untuk menghargai tetesan keringat dan darah para pahlawan yang telah memerdekakan tanah ini.
Ketika pohon-pohon kecil itu mulai berakar di tepian Sungai Cemoro, di saat yang sama, komitmen untuk menjaga daya hidup Bumi Pertiwi sedang ditanam kuat-kuat di dalam hati setiap masyarakat Karanganyar. Sebuah manifestasi ajaran Bung Karno yang hidup, tumbuh, dan menghidupi. ( bre suroto )
