Gereja Rehoboth Berdiri Megah, Sebuah Prasasti Toleransi untuk Karanganyar

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti peresmian Gedung Gereja Rehoboth di Kecamatan Jumapolo, Sabtu (20/9/2025). Berdirinya kembali rumah ibadah yang lebih representatif ini bukan sekadar perayaan selesainya sebuah proyek renovasi, melainkan sebuah penegasan kuat bahwa Karanganyar adalah rumah bersama bagi semua umat.

Di tengah mozaik keberagaman masyarakat, kehadiran Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto, S.E., M.M., untuk meresmikan gereja menjadi simbol nyata komitmen pemerintah daerah dalam merawat tenun kebangsaan. Di hadapan jemaat, tokoh lintas agama, dan pejabat setempat, Bupati tidak hanya menandatangani prasasti di atas batu, tetapi juga seolah memahat pesan toleransi di hati setiap yang hadir.

“Kebersamaan, toleransi, dan gotong royong adalah kunci untuk menghadirkan Karanganyar yang maju dan damai. Mari kita sesarengan mbangun Karanganyar,” ujar Bupati Rober Christanto dalam sambutannya.

Kalimat tersebut terdengar lebih dari sekadar pidato seremonial. Ia menjadi sebuah janji dan pengingat bahwa pembangunan di Karanganyar tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik seperti jalan dan gedung, tetapi juga dari kokohnya fondasi sosial yang dibangun di atas saling menghargai dan menerima perbedaan.

Lebih dari Sekadar Tembok dan Atap

Proses renovasi Gereja Rehoboth yang berlangsung sejak 3 Oktober 2024 hingga 22 Februari 2025 adalah cerminan gotong royong. Kini, jemaat memiliki tempat yang nyaman untuk beribadah. Namun, harapan yang dititipkan jauh melampaui fungsi utamanya.

Bupati berharap gereja ini menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan, membuka pintu dialog, dan menjadi pusat kegiatan sosial yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh masyarakat Jumapolo tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Ini adalah esensi dari hidup toleran. Toleransi bukanlah sekadar membiarkan yang berbeda ada, tetapi secara aktif ikut bergembira dan mendukung saat sesama anak bangsa merayakan hari pentingnya. Ia adalah tentang melihat tetangga bukan dari agamanya, melainkan dari kemanusiaannya. Saat sebuah gereja direnovasi, masjid dibangun, atau pura dipugar, sejatinya yang sedang dibangun adalah peradaban bersama.

Tantangan Menjaga Komitmen

Pesan yang disampaikan Bupati Rober Christanto menjadi tolok ukur sekaligus tantangan bagi seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar. Kehadiran dan dukungan yang ditunjukkan hari ini harus menjadi semangat yang konsisten meresap dalam setiap kebijakan dan pelayanan publik.

Menjaga toleransi adalah kerja berkelanjutan. Pemkab Karanganyar kini memiliki tugas untuk memastikan bahwa semangat “sesarengan mbangun” ini tidak berhenti di podium, melainkan terwujud dalam:

  • Kebijakan yang Adil: Memastikan semua kelompok agama mendapatkan kemudahan dan perlakuan yang sama dalam perizinan dan kegiatan keagamaan.
  • Pendidikan Inklusif: Mendorong program-program di sekolah dan masyarakat yang mempromosikan pemahaman dan dialog antarumat beragama.
  • Keteladanan Aparatur: Menjadikan setiap aparatur sipil negara sebagai agen toleransi yang melayani tanpa diskriminasi.

Berdirinya Gereja Rehoboth yang baru ini adalah sebuah oase kesejukan. Ia menjadi bukti bahwa di Karanganyar, perbedaan keyakinan bukanlah tembok pemisah, melainkan pilar-pilar yang justru memperkokoh rumah bersama bernama Indonesia. Tugas Pemkab dan seluruh warganya adalah memastikan pilar-pilar ini selalu terawat dan semakin kuat dari hari ke hari. ( bre )