Fokusjateng-SURAKARTA-Pemerintah Kota Surakarta menggandeng lulusan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga pendidik di sekolah negeri. Sebanyak 170 lulusan PPG akan diterjunkan melalui skema magang guru yang mulai dijalankan tahun ini.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengatakan program tersebut menjadi salah satu langkah yang ditempuh Pemkot Surakarta di tengah berkurangnya jumlah guru akibat pensiun, sementara rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) dari pemerintah pusat belum dibuka.
Menurut Respati, kebutuhan layanan pendidikan tetap harus dipenuhi meskipun jumlah tenaga pengajar terus menyusut. Karena itu, Pemkot Surakarta menjalin kerja sama dengan FKIP UNS untuk menempatkan lulusan PPG di sekolah-sekolah yang membutuhkan tambahan guru.
“Guru-guru ini banyak yang memasuki masa pensiun, sementara proses pengadaan ASN baru belum ada. Karena itu kami bekerja sama dengan FKIP UNS melalui program magang bagi lulusan PPG,” kata Respati usai memberikan arahan kepada peserta Program Magang Guru Lulusan PPG FKIP UNS di Kantor Dinas Pendidikan Surakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Ia menjelaskan para peserta magang akan ditempatkan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah negeri. Selain memperoleh pengalaman mengajar secara langsung, mereka juga menerima bantuan biaya transportasi dari pemerintah daerah selama mengikuti program tersebut.
Respati berharap keberadaan guru-guru muda dapat membantu menjaga kualitas pembelajaran sekaligus menjadi sarana pengembangan kompetensi bagi lulusan PPG sebelum memasuki dunia kerja secara penuh.
Kepala Dinas Pendidikan Surakarta, Dwi Ariatno, mengungkapkan kekurangan guru menjadi tantangan yang semakin terasa di Kota Surakarta. Setiap bulan terdapat sekitar 35 hingga 40 guru yang memasuki masa purna tugas.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, hingga akhir 2026 diperkirakan sebanyak 250 guru akan pensiun. Di sisi lain, sekolah tidak lagi diperbolehkan merekrut tenaga honorer sebagai solusi sementara sehingga kebutuhan tenaga pengajar harus dicari melalui mekanisme lain.
“Kelas harus tetap berjalan. Sementara jumlah guru terus berkurang dan belum ada penggantinya. Karena itu kami mencoba membuat skema yang berbeda agar proses belajar mengajar tidak terganggu,” ujar Dwi.
Program magang ini direncanakan berlangsung hingga Desember 2026. Para peserta akan menerima insentif berupa uang transport sebesar Rp75 ribu untuk setiap hari kehadiran.
Pemkot Surakarta juga membuka kemungkinan peningkatan besaran insentif pada tahun depan apabila program tersebut dilanjutkan. Usulan yang tengah dikaji adalah menaikkan tunjangan menjadi Rp100 ribu per hari hadir sebagai bentuk apresiasi terhadap para peserta magang yang membantu memenuhi kebutuhan guru di sekolah negeri. (**/*Thia)
