Tradisi Sebaran Apem Kukus Keong Mas Bulan Sapar di Boyolali masuk Warisan Budaya Tak Benda 2020

Tradisi sebaran apem keong mas dengan reog turonggo seto di Boyolali. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Kabupaten Boyolali memiliki sebuah Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2020. Warisan tersebut adalah tradisi sebaran apem kukus keong mas yang kerap digelar setiap Bulan Sapar pada penanggalan Jawa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Darmanto didampingi Kepala Bidang Kebudayaan, Budi Prasetyaningsih mengatakan, penetapan tersebut berdasarkan hasil sidang Kemendikbud di Jakarta yang digelar secara daring pada Kamis (8/10/2020) yang lalu.

“Jadi sebaran apem kukus keong mas yang dilaksanakan setiap bulan Sapar itu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Jakarta, kemarin pada tanggal 9 Oktober 2020 berdasarkan sidang penetapan,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, pada Selasa (13/10/2020).

Penetapan tersebut berdasarkan pada beberapa syarat yang harus dimiliki. Diantaranya yakni tradisi tersebut dilakukan setiap tahun, merupakan ciri khas daerah tersebut, serta bermanfaat bagi masyarakat.

“Ini angin segar bagi investasi bidang wisata di Boyolali, apalagi sebelumnya tradisi Turonggo Seto Boyolali yang juga ditetapkan sebagai WBTb pada tahun 2016. Dengan demikian kedepannya tidak akan ada klaim sepihak atas budaya yang berasal dari Boyolali,” imbuhnya.

Setelah tradisi Sebaran Apem dan tradisi Turonggo Seto Boyolali ditetapkan sebagai WBTB. Saat ini pihaknya sedang mendaftarkan beberapa tradisi di Kabupaten Boyolali agar bisa menjadi warisan serupa. Antara lain ritual Tungguk Tembakau di Kecamatan Selo, kriya tembaga di Tumang Kecamatan Cepogo dan pakaian pengantin khas Boyolali, Wahyu Merapi Pacul Goweng.

“Usulan ini merupakan salah satu upaya melindungi dan melestarikan budaya dan tradisi di Boyolali,” katanya.

Sebagai informasi sebaran apem kukus keong mas ini identik dengan prosesi arak arakan apem keong mas dari Kantor Kecamatan Banyudono dan dibagikan di kawasan Masjid Ciptomulyo. Sehingga sudah menjadi ciri khas daerah Pengging dan sekitarnya, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Adapun tradisi Turonggo Seto adalah salah satu kesenian rakyat yang hidup dan tumbuh di daerah antara lereng Gunung Merbabu dan Merapi. Latar belakang kisah dalam kesenian ini, bercerita tentang pasukan berkuda Pangeran Diponegoro saat berperang melawan Belanda.