FokusJateng.com – BOYOLALI – Kelangkaan minyak goreng bersubsidi MinyaKita mulai dirasakan di sejumlah pasar di Boyolali. Stok yang sulit diperoleh selama beberapa bulan terakhir membuat harga di tingkat pengecer naik hingga mencapai Rp21 ribu per liter, padahal HET MinyaKita saat ini masih berada di angka Rp15.700 per liter.
Kondisi ini semakin menyulitkan pelaku UMKM yang mengakibatkan semakin menipisnya keuntungan usaha.
Wahyu Nugraheni, salah seorang pelaku UMKM di Boyolali, mengatakan harga kebutuhan dapur saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan sehingga menyulitkan pengelolaan keuangan rumah tangga maupun usaha.
“Harga kebutuhan dapur sekarang cukup tinggi. Uang belanja yang seharusnya bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan akhirnya banyak terserap untuk sembako, terutama minyak goreng, tepung, dan beras,” ujarnya. Senin 15 Juni 2026.
Senada, Diana Kartika Sari, pelaku usaha olahan makanan, mengatakan kenaikan harga minyak goreng membuat pelaku usaha kesulitan menentukan harga jual produk karena daya beli masyarakat juga sedang menurun.
“Kami menggunakan minyak setiap hari untuk produksi. Kalau harga minyak terus naik, kami juga bingung menentukan harga jual karena konsumen juga sedang menahan belanja,” katanya.
Sementara sejumlah pedagang di Pasar Pengging mengaku sudah lama tidak memperoleh pasokan MinyaKita. Tarum, salah seorang pedagang sembako, menyebut sudah lebih dari tiga bulan tidak menjual MinyaKita.
“Sudah tidak ada. Barangnya langka dan harganya mahal. Sekarang lebih memilih menjual minyak premium karena selisih harganya tidak jauh,” ujarnya.
Pedagang lainnya, Sutarsini, mengatakan sudah tidak menerima pasokan MinyaKita selama beberapa waktu terakhir. Sebagai gantinya, distributor mengirimkan minyak goreng merek lain untuk dijual kepada konsumen.
Kondisi serupa diungkapkan Ahmad Jayamahe. Menurutnya, pasokan MinyaKita kosong sejak sekitar dua bulan terakhir dan kemudian digantikan dengan minyak goreng merek lain dari pemasok.
“Kalau MinyaKita sudah kosong sekitar dua bulan. Sekarang diganti minyak Mitra dari supplier,” katanya.
Setelah menelusuri sejumlah kios, masih ditemukan pedagang yang menjual MinyaKita. Namun harga jualnya jauh di atas HET. Nanik Winarni, pedagang sembako di Pasar Pengging, menjual MinyaKita kemasan satu liter seharga Rp21 ribu, sedangkan kemasan dua liter dijual Rp42 ribu.
“Kulakannya sudah tinggi. Saya hanya mengambil keuntungan sedikit. Stoknya juga terbatas karena barangnya memang langka,” ujarnya.
Meski stok terbatas dan harga tinggi, permintaan masyarakat terhadap MinyaKita masih cukup besar. Banyak konsumen tetap mencari produk tersebut karena harganya dinilai lebih murah dibanding sejumlah merek minyak goreng lain di pasaran.
“Bisa jadi pendistribusiannya yang tidak tepat. Semoga saja pemerintah segera menstabilkan harga lagi supaya kami para pelaku usaha tidak terlalu terdampak,” katanya. ( yull/”*)
